Internationalmedia.co.id melaporkan, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, pemimpin tertinggi Gereja Katolik di Yerusalem, secara mengejutkan memasuki Jalur Gaza pada Jumat (18/7) lalu. Kunjungannya menyusul serangan Israel yang menghancurkan satu-satunya gereja Katolik di wilayah tersebut, Gereja Keluarga Kudus di Gaza City. Serangan yang terjadi Kamis (17/7) itu menewaskan tiga orang dan melukai beberapa lainnya, termasuk Pastor Paroki, Bapa Gabriel Romanelli.
Aksi Kardinal Pizzaballa ini terbilang berani. Pasalnya, akses masuk ke Jalur Gaza sangat terbatas bagi pejabat asing. Didampingi Patriark Ortodoks Yunani Yerusalem, Theophilos III, Kardinal Pizzaballa membawa bantuan kemanusiaan berupa ratusan ton pasokan makanan, kotak pertolongan pertama, dan peralatan medis. Bantuan ini, menurut pernyataan Patriarkat Latin Yerusalem, tidak hanya ditujukan bagi komunitas Kristen kecil di Gaza, tetapi juga untuk keluarga-keluarga Palestina lainnya yang terkena dampak konflik.

Kardinal Pizzaballa juga memastikan evakuasi bagi korban luka. Dalam wawancara dengan Corriere della Sera, ia tegas menyatakan bahwa kehadiran umat Katolik akan tetap ada di Gaza, apa pun yang terjadi. Ia juga meragukan klaim Israel bahwa serangan tersebut merupakan kesalahan. "Kami bukan target. Mereka bilang itu kesalahan. Tapi semua orang di sini percaya itu bukan kesalahan," tegasnya.
Pernyataan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang menyebut insiden itu akibat "amunisi nyasar" dan sedang diselidiki, diragukan Kardinal Pizzaballa. Sementara itu, Paus Leo XIV menyampaikan dukacita mendalam atas insiden tersebut, namun menolak menyalahkan Israel secara langsung. Paus juga menegaskan kembali komitmennya untuk menghentikan kekerasan yang terjadi. Kunjungan Kardinal Pizzaballa ke Gaza menjadi sorotan dunia, menunjukkan solidaritas internasional terhadap korban dan mempertanyakan penjelasan resmi dari pihak Israel.