Kejutan datang dari Korea Utara (Korut). Internationalmedia.co.id melaporkan bahwa negara komunis tersebut berambisi membangun kapal perang baru berbobot 5.000 ton untuk memperkuat armada lautnya. Pengumuman ini menyusul peluncuran dua kapal penghancur serupa pada tahun ini.
Kim Jong Un, pemimpin Korut, telah beberapa kali menegaskan komitmennya untuk memodernisasi angkatan laut. Ia bahkan memimpin langsung peluncuran kapal penghancur kelas 5.000 ton pertama, Choe Hyon, pada bulan April lalu. Pihak militer Korea Selatan (Korsel) menduga pembangunan kapal tersebut mendapat bantuan dari Rusia, sebagai imbalan atas dukungan militer Korut untuk invasi Rusia ke Ukraina.

Kegagalan peluncuran kapal penghancur kedua, Kang Kon, pada Mei lalu, tak menyurutkan tekad Pyongyang. Kapal tersebut berhasil diperbaiki dan diluncurkan kembali pada Juni. Kini, para pekerja di Galangan Kapal Nampho, seperti dilaporkan kantor berita Korut, Korean Central News Agency (KCNA), berjanji untuk menyelesaikan pembangunan "Kapal Penghancur Kelas Choe Hyon No 3" pada 10 Oktober 2026. Tanggal tersebut bertepatan dengan peringatan berdirinya Partai Buruh Korea.
KCNA menggambarkan kapal perang terbaru ini sebagai "kapal perang yang kuat". Manajer galangan kapal Nampho mendorong para pekerja untuk memenuhi tenggat waktu, guna mendukung "rencana partai untuk membangun militer yang kuat" dan "mempertahankan kedaulatan maritim dan kepentingan nasional".
Sementara itu, Presiden Korsel Lee Jae Myung, yang terpilih dalam pemilu lalu, menunjukkan pendekatan yang lebih lunak terhadap Korut dibandingkan pendahulunya. Pemerintahan Lee telah menghentikan siaran propaganda melalui pengeras suara di perbatasan, menandai penurunan tensi di semenanjung Korea.
