Jepang kini dalam status siaga tinggi. Menyusul guncangan gempa bumi berkekuatan M 7,7 yang melanda perairan utara Prefektur Iwate pada Senin sore, Badan Meteorologi Jepang (JMA) secara khusus memperingatkan potensi gempa susulan dengan magnitudo mencapai 8,0 atau lebih kuat. Menurut laporan Internationalmedia.co.id – News, peringatan ini dikeluarkan setelah gempa awal memicu peringatan tsunami di beberapa wilayah pesisir.
Dalam pernyataannya, JMA menegaskan bahwa "kemungkinan terjadinya gempa bumi besar baru relatif lebih tinggi daripada pada masa normal." Gempa yang awalnya dilaporkan berkekuatan M 7,4, kemudian direvisi menjadi M 7,5, dan terakhir dikonfirmasi pada M 7,7, terjadi pada pukul 16.53 waktu setempat (07.52 GMT) di perairan Pasifik, lepas pantai utara Prefektur Iwate. Guncangan tersebut terasa hingga ratusan kilometer jauhnya, membuat gedung-gedung tinggi di ibu kota Tokyo bergoyang.

Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara dalam konferensi pers menyatakan bahwa belum ada laporan langsung mengenai cedera serius atau kerusakan signifikan akibat gempa awal. Namun, seorang pejabat Kantor Kabinet, dalam pengarahan terpisah yang disiarkan televisi, menekankan pentingnya kesiapsiagaan. "Meskipun belum pasti apakah gempa bumi besar (lainnya) akan benar-benar terjadi, kami meminta Anda untuk mengambil langkah-langkah kesiapsiagaan bencana berdasarkan prinsip bahwa Anda bertanggung jawab atas keselamatan Anda sendiri," ujarnya.
Pemerintah Jepang segera merilis peringatan tsunami untuk area sepanjang Pantai Pasifik di Aomori, Hokkaido, dan Iwate. Warga di wilayah pesisir atau dekat sungai diimbau untuk segera mengevakuasi diri ke tempat yang lebih tinggi dan aman.
Sebelumnya, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) juga mencatat gempa bumi ini, dengan pusat gempa berada sekitar 71 mil dari kota Miyako, Provinsi Iwate, memperkuat data awal yang dikumpulkan oleh otoritas Jepang.
