Jakarta – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi serangan militer terbaru terhadap Iran. Target kali ini adalah Jembatan B1 di Karaj, sebuah struktur yang dikenal sebagai jembatan tertinggi di kawasan tersebut, kini dilaporkan hancur lebur. Internationalmedia.co.id – News melaporkan pada Jumat (3/4/2026) bahwa serangan ini terjadi tak lama setelah ancaman keras Trump untuk mengembalikan Iran ke ‘Zaman Batu’.
Melalui akun media sosialnya, Trump membagikan rekaman video yang menunjukkan kepulan asap tebal membubung dari lokasi Jembatan B1 di Karaj, sekitar 35 kilometer barat daya Teheran. Dalam pernyataannya, Trump secara tegas memperingatkan akan adanya kehancuran yang lebih luas dan masif, kecuali Teheran bersedia duduk di meja perundingan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima minggu terakhir.

Dalam nada yang mengancam, Trump menyatakan, "Jembatan terbesar di Iran runtuh, tidak akan pernah bisa digunakan lagi – dan banyak lagi yang akan menyusul! Sudah saatnya bagi Iran untuk membuat kesepakatan sebelum terlambat, dan tidak ada lagi yang tersisa dari apa yang masih bisa menjadi negara besar!" Pernyataan ini menggarisbawahi desakan Washington agar Iran segera mencari resolusi diplomatik.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran melaporkan versi yang berbeda, mengklaim bahwa Jembatan B1 telah menjadi sasaran dua serangan terpisah oleh pasukan gabungan AS-Israel. Laporan tersebut juga menyebutkan adanya dua korban sipil akibat insiden tersebut. Ironisnya, serangan kedua dilaporkan terjadi saat tim darurat sedang berupaya memberikan pertolongan kepada para korban dari serangan pertama, memperparah situasi di lapangan.
Sebuah pernyataan dari televisi pemerintah Iran mengutip, "Beberapa menit yang lalu, musuh Amerika-Zionis sekali lagi menargetkan jembatan B1 di Karaj." Jembatan B1, yang masih dalam tahap pembangunan, merupakan proyek infrastruktur vital dan dikenal sebagai jembatan tertinggi di Timur Tengah, dengan pilar menjulang setinggi 136 meter (447 kaki). Kehancurannya diperkirakan akan menimbulkan dampak signifikan terhadap konektivitas dan pembangunan di wilayah tersebut.

