Pernyataan mengejutkan datang dari Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar. Internationalmedia.co.id melansir, Saar menyatakan ketertarikan negaranya untuk mencapai perjanjian perdamaian dan normalisasi hubungan dengan Suriah dan Lebanon. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers, mengutip laporan AFP dan Al Arabiya. Saar menyebut Israel ingin memperluas lingkaran perdamaian Abraham Accord yang telah terjalin dengan beberapa negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko.
Namun, Saar menekankan bahwa normalisasi hubungan tersebut harus tetap menjaga kepentingan dan keamanan Israel. Pendapat senada disampaikan Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, yang juga Utusan Khusus AS untuk Suriah. Dalam wawancara dengan Anadolu Agency, Barrack menilai kesepakatan damai antara Israel dengan Suriah dan Lebanon sangat penting, terutama setelah berakhirnya konflik Iran-Israel. Ia melihat Timur Tengah siap untuk dialog baru, dan menyebut Israel tengah dalam proses mendefinisikan ulang posisinya. Barrack bahkan menyebut Presiden Suriah, Bashar al-Assad, telah menunjukkan keinginan perdamaian.

Lebih jauh, Barrack menganggap Turki akan berperan krusial dalam menciptakan jalan baru bagi Timur Tengah, bahkan menyebutnya kunci dalam mengubah narasi regional. Ia menilai Presiden AS dan Turki melihat peluang besar untuk mengubah dialog di Timur Tengah, yang membutuhkan kepemimpinan yang kuat. Pernyataan-pernyataan ini memicu spekulasi mengenai potensi perubahan signifikan dalam peta politik Timur Tengah. Apakah ini awal dari era baru perdamaian? Atau hanya sekadar pernyataan diplomasi? Waktu yang akan menjawabnya.
