Ketegangan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Teheran secara tegas membantah adanya dialog produktif, seperti yang diklaim oleh Presiden AS Donald Trump. Internationalmedia.co.id – News melaporkan pada Selasa (24/3/2026), bantahan ini kontras dengan pernyataan Trump yang menyebut telah terjadi percakapan signifikan antara kedua negara.
Menurut laporan dari kantor berita semi-resmi Mehr, yang mengutip sumber internal Iran, "tidak ada dialog" yang terjadi antara Teheran dan Washington. Sumber tersebut mengindikasikan bahwa pernyataan Trump hanyalah bagian dari strategi AS untuk "menurunkan harga energi global dan mengulur waktu demi melaksanakan rencana militer mereka."

Meskipun mengakui adanya inisiatif dari negara-negara regional untuk meredakan ketegangan, sumber Iran tersebut menegaskan, "Kami bukanlah pihak yang memulai konflik ini, dan semua tuntutan harus diarahkan kepada Washington."
Di sisi lain, Presiden Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social, pada Senin (23/3) mengumumkan telah memerintahkan penundaan selama lima hari untuk semua serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran. Keputusan ini, menurut Trump, didasari oleh "percakapan yang sangat baik dan produktif" yang telah berlangsung selama dua hari terakhir dengan Teheran.
Trump menyatakan kegembiraannya atas "percakapan mendalam, terperinci, dan konstruktif" ini, yang diharapkan akan berlanjut sepanjang minggu, dengan tujuan mencapai "penyelesaian lengkap dan total permusuhan di Timur Tengah." Namun, penundaan serangan tersebut bergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung.
Perkembangan ini terjadi di tengah eskalasi regional yang terus meningkat sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Insiden tersebut telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, memicu krisis kemanusiaan dan politik yang mendalam.
Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangkaian serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan balasan ini tidak hanya menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang signifikan, tetapi juga mengganggu stabilitas pasar global dan operasional penerbangan internasional.
(rfs/imk)

