Internationalmedia.co.id – News melaporkan, gelombang demonstrasi yang semakin memanas di Iran telah merenggut setidaknya enam nyawa, seiring dengan memburuknya situasi ekonomi dan politik di negara tersebut. Kericuhan yang telah memasuki hari kelima ini juga memicu respons keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang melontarkan ancaman serius terhadap pemerintah Iran.
Data yang dihimpun dari kantor berita semi-resmi Fars dan kelompok hak asasi manusia Hengaw pada Jumat (2/1/2026) menunjukkan adanya korban jiwa di beberapa kota. Dua orang dilaporkan tewas dalam bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan di Lordegan, tiga lainnya di Azna, dan satu di Kouhdasht. Namun, belum ada konfirmasi resmi apakah korban tersebut adalah demonstran atau anggota pasukan keamanan.

Hengaw secara spesifik menyatakan dua korban di Lordegan adalah demonstran, meskipun klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh BBC Persia. Di sisi lain, media pemerintah Iran mengumumkan seorang anggota pasukan keamanan yang terafiliasi dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) tewas dalam insiden terpisah pada Rabu malam di Kouhdasht. Para demonstran, bagaimanapun, bersikeras bahwa korban tersebut adalah salah satu dari mereka yang ditembak oleh pasukan keamanan. Selain korban jiwa, sedikitnya 13 petugas polisi dan anggota Basij mengalami luka-luka akibat lemparan batu di area tersebut.
Gelombang protes ini bermula dari kemarahan para pemilik toko di Teheran atas anjloknya nilai mata uang Iran terhadap dolar AS, yang kemudian meluas ke berbagai kota dan melibatkan mahasiswa universitas. Demonstrasi ini, yang disebut-sebut sebagai yang paling meluas sejak pemberontakan tahun 2022 pasca kematian Mahsa Amini, kini juga menyuarakan tuntutan yang lebih besar: pengakhiran kekuasaan pemimpin tertinggi negara itu, bahkan beberapa menyerukan kembalinya sistem monarki.
Dalam upaya meredam gejolak, pemerintah Iran mengambil langkah drastis dengan menutup sekolah, universitas, dan lembaga publik di seluruh negeri pada Rabu (31/12/2025). Meskipun secara resmi disebut sebagai upaya penghematan energi di tengah cuaca dingin, banyak warga Iran melihatnya sebagai taktik untuk mengendalikan demonstrasi. Keamanan juga diperketat di area-area kunci Teheran tempat protes pertama kali meletus.
Menanggapi situasi ini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pemerintahnya akan mendengarkan ‘tuntutan sah’ para demonstran. Namun, peringatan tegas datang dari Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi-Azad, yang menegaskan bahwa setiap upaya menciptakan ketidakstabilan akan disambut dengan ‘tanggapan tegas’.
Di panggung internasional, Presiden AS Donald Trump tidak tinggal diam. Melalui unggahan di Truth Social, Trump melontarkan ancaman serius, menyatakan bahwa Amerika Serikat ‘siap siaga dan siap bertindak’ jika Iran ‘menembak dan membunuh demonstran damai secara brutal’, sebuah tindakan yang disebutnya sebagai kebiasaan rezim tersebut. "Jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai secara brutal, yang merupakan kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang untuk menyelamatkan mereka. Kami siap siaga dan siap bertindak," tegas Trump.
