Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz kini tertutup bagi kapal-kapal musuh, seiring dengan memanasnya konflik melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pernyataan ini segera disusul dengan langkah diplomatik Thailand yang berhasil mencapai kesepakatan dengan Iran, mengamankan jalur pelayaran bagi kapal tanker minyaknya.
IRGC tidak main-main dengan ancamannya. Mereka mengeluarkan peringatan keras, menegaskan bahwa setiap kapal yang nekat melintasi jalur perairan vital ini akan menghadapi "tindakan tegas," terutama yang menuju atau dari pelabuhan musuh. Bahkan, pasukan IRGC mengklaim telah berhasil mengusir setidaknya tiga kapal yang mencoba menembus titik transit krusial tersebut. Sejak awal Maret, pembatasan di Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran global, menyebabkan gangguan pengiriman dan lonjakan harga minyak dunia.

Di tengah gejolak ini, Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, mengkonfirmasi tercapainya "kesepakatan" yang memungkinkan kapal-kapal tanker minyak Thailand melintas dengan aman melalui Selat Hormuz. Langkah ini diharapkan dapat meredakan kekhawatiran Bangkok terkait pasokan dan impor bahan bakar di tengah ketidakpastian regional.
Pakistan Jadi Mediator Tak Terduga
Sementara itu, di tengah meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi konflik regional yang lebih luas pasca-serangan AS dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari, Pakistan secara mengejutkan muncul sebagai mediator. Islamabad menawarkan diri untuk membawa Washington dan Teheran ke meja perundingan.
Peran ini tergolong tidak biasa bagi Pakistan, yang jarang diminta untuk bertindak sebagai perantara dalam diplomasi berisiko tinggi. Negosiasi sebelumnya antara AS dan Iran sering difasilitasi oleh negara-negara Timur Tengah seperti Qatar dan Oman. Namun, karena negara-negara tersebut kini berada di bawah ancaman serangan Iran selama perang, Islamabad mengambil alih peran krusial ini. Keputusan Pakistan didasari oleh hubungan baiknya dengan AS dan Iran, serta kepentingannya yang besar dalam penyelesaian konflik.
Tel Aviv Dihantam Rudal Iran, Korban Berjatuhan
Medan perang juga menunjukkan dampak nyata. Otoritas Israel melaporkan sedikitnya satu orang tewas di area ibu kota Tel Aviv akibat serangan rudal Iran. Teheran terus melancarkan serangan pembalasan saat perang memasuki bulan pertama.
Militer Israel, seperti dilansir AFP, mengidentifikasi setidaknya lima serangan rudal yang diluncurkan dari Iran menuju wilayah Israel selama lebih dari lima jam pada Jumat (27/3) malam hingga Sabtu (28/3) dini hari waktu setempat. Serangan-serangan rudal Iran tersebut memicu diaktifkannya sirene peringatan dan sistem pertahanan udara Tel Aviv untuk mencegat proyektil yang datang.
Trump Klaim Pengaruh Iran Meredup
Dari sisi Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengecam perilaku regional Iran yang disebutnya sebagai "pengganggu" sejak lama di kawasan Timur Tengah. Trump kemudian mengklaim bahwa pengaruh Teheran di kawasan tersebut kini semakin berkurang di bawah operasi militer Washington.
AS, bersama sekutunya, Israel, melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran sejak 28 Februari lalu. Teheran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
"Selama 47 tahun, Iran dikenal sebagai pengganggu di Timur Tengah, tetapi mereka bukan lagi pengganggu. Mereka sedang dalam pelarian," kata Trump saat berbicara dalam forum Future Investment Initiative (FII), konferensi bisnis Arab Saudi yang digelar di Miami, Florida, AS, seperti dilansir Anadolu Agency, Sabtu (28/3/2026).
Situasi yang terus bergejolak ini menunjukkan kompleksitas dan dampak luas dari konflik yang sedang berlangsung, mempengaruhi diplomasi, keamanan maritim, hingga stabilitas regional.
