Internationalmedia.co.id – News – Kelompok militan Hamas mendesak sekutunya, Iran, untuk menahan diri dari menyerang negara-negara Teluk di tengah eskalasi konflik antara Teheran dengan Amerika Serikat dan Israel. Seruan ini datang saat Hamas sendiri terus berperang melawan Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Sabtu (14/3/2026), Hamas, yang berbasis di Gaza City, menegaskan hak Republik Islam Iran untuk membela diri dari agresi Washington dan Tel Aviv. Namun, di sisi lain, mereka secara eksplisit meminta Iran untuk tidak menargetkan negara-negara tetangga di kawasan tersebut.

"Sambil menegaskan hak Republik Islam Iran untuk merespons agresi ini dengan segala cara yang tersedia sesuai dengan norma dan hukum internasional, kelompok ini menyerukan kepada saudara-saudara di Iran untuk menghindari penargetan negara-negara tetangga," demikian bunyi pernyataan Hamas yang dikutip internationalmedia.co.id.
Seruan penting ini muncul menyusul insiden pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, dalam serangan yang dikaitkan dengan AS-Israel pada 28 Februari lalu. Hamas sebelumnya telah mengutuk keras insiden tersebut sebagai "kejahatan keji" dan secara terbuka mengakui dukungan berkelanjutan dari mendiang Khamenei terhadap perjuangan mereka.
"Dia memberikan semua bentuk dukungan politik, diplomatik, dan militer kepada rakyat kami, perjuangan kami, dan perlawanan kami," kata Hamas dalam pernyataan sebelumnya yang dirilis setelah kematian Khamenei dikonfirmasi oleh otoritas Iran.
Sebagai respons atas pengeboman yang dilakukan AS bersama sekutunya, Israel, Iran telah melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone terhadap negara-negara tetangga yang menampung aset militer AS. Target serangan tersebut termasuk Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Serangan-serangan balasan Teheran ini dilaporkan menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di beberapa negara Teluk.
Selain itu, Hamas juga menyerukan komunitas internasional untuk segera berupaya menghentikan perang yang sedang berlangsung, menyoroti dampak destabilisasi yang meluas di seluruh kawasan Timur Tengah.
(nvc/imk)

