Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi melontarkan pernyataan mengejutkan terkait konflik di Gaza. Melalui Internationalmedia.co.id, pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Kairo, Selasa (5/8) lalu. Sisi secara tegas menuduh Israel melakukan "perang kelaparan dan genosida" di Jalur Gaza, membantah keras tuduhan yang menyebut pemerintahnya menghambat masuknya bantuan kemanusiaan.
Menurut Sisi, konflik yang terjadi bukan sekadar perebutan kekuasaan politik atau pembebasan sandera. "Perang ini telah melampaui logika dan justifikasi apapun, ini adalah perang kelaparan dan genosida," tegasnya. Ia bahkan menyebut adanya "genosida sistematis untuk memberantas perjuangan Palestina," seperti dikutip dari kantor berita AFP, Rabu (6/8). Pernyataan ini muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan perlunya "penyelesaian" atas kekalahan Hamas untuk membebaskan sandera. Netanyahu juga sempat menyatakan kemungkinan pendudukan penuh wilayah Gaza, sehari sebelum pernyataan Sisi.

Situasi di Gaza memang memprihatinkan. Blokade ketat Israel telah memicu krisis kemanusiaan yang parah, dengan lebih dari 61.000 warga Palestina tewas menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Meskipun bantuan mulai mengalir kembali akhir Mei lalu setelah tekanan internasional meningkat, Sisi menekankan bahwa perlintasan Rafah "tidak pernah ditutup," membantah tudingan keterlibatan Mesir dalam blokade. Ia menjelaskan, akses bantuan hanya terhambat jika pasukan Israel berada di sisi Palestina perlintasan tersebut. Saat ini, ribuan truk bantuan tertahan menunggu izin masuk.
Menanggapi rencana Amerika Serikat untuk relokasi warga Gaza ke Mesir, Sisi menegaskan penolakan negaranya. "Mesir akan selalu menjadi pintu gerbang bantuan, bukan pintu gerbang pemindahan rakyat Palestina," tegasnya. "Kami siap mengizinkan bantuan masuk, tetapi tidak siap menerima atau memindahkan warga Palestina dari tanah mereka." Pernyataan Sisi ini tentu akan memicu reaksi beragam di kancah internasional.

