Kabar mengejutkan datang dari Timur Tengah. Internationalmedia.co.id melaporkan bahwa Israel dan Suriah telah mencapai kesepakatan gencatan senjata setelah konflik bersenjata yang memanas beberapa hari terakhir. Perkembangan ini disambut baik oleh Turki, Yordania, dan negara-negara tetangga lainnya yang turut berperan sebagai penengah.
Dikutip dari berbagai sumber berita internasional seperti AFP, Al Jazeera, dan Reuters, pengumuman gencatan senjata disampaikan langsung oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Turki, Tom Barrack, melalui akun media sosial X miliknya pada Sabtu (19/7/2025). Dalam unggahannya, Barrack menyatakan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa, telah menyepakati gencatan senjata dengan dukungan Amerika Serikat, Turki, Yordania, dan negara-negara tetangga. Barrack juga menyerukan kepada semua kelompok yang terlibat konflik, termasuk Druze, Badui, dan Sunni, untuk segera menghentikan kekerasan dan bersama-sama membangun Suriah yang baru dan bersatu.

Gencatan senjata ini merupakan hasil upaya diplomasi intensif Amerika Serikat yang berupaya mengakhiri konflik yang telah menewaskan puluhan orang. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pada Rabu (16/7/2025), menyatakan bahwa sejumlah langkah telah disepakati untuk meredakan situasi yang disebutnya "mengerikan dan meresahkan". De-eskalasi konflik juga terlihat dari penarikan pasukan pemerintah Suriah dari wilayah Sweida, pusat konflik utama.
Sebelumnya, serangan udara Israel yang menyasar Damaskus, menggunakan drone, dilakukan setelah ancaman peningkatan serangan jika pemerintah Suriah tidak menarik pasukannya dari Sweida. Bentrokan mematikan antara pejuang Druze dan Bedouin di wilayah tersebut telah berlangsung sejak Minggu (13/7/2025), menewaskan puluhan orang. Meskipun sempat terjadi gencatan senjata sementara yang diumumkan Kementerian Pertahanan Damaskus, pertempuran kembali berkecamuk, mendorong Israel untuk kembali melancarkan serangan udara dan memperkuat pasukannya di perbatasan Suriah. Internationalmedia.co.id mencatat, televisi pemerintah Suriah melaporkan adanya korban sipil akibat serangan udara tersebut.
