Internationalmedia.co.id – Gencatan senjata selama 48 jam di perbatasan Afghanistan dan Pakistan resmi berakhir, memicu kembali ketegangan dan serangan yang merenggut nyawa. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas kawasan dan masa depan hubungan kedua negara.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa kelanjutan gencatan senjata akan sangat bergantung pada sikap Taliban. Ia menegaskan bahwa Pakistan siap berdialog jika Taliban bersedia menyelesaikan masalah dan memenuhi tuntutan Pakistan, termasuk memberantas militan Taliban Pakistan dan mencegah wilayah Afghanistan digunakan untuk merencanakan serangan.

Sementara itu, di Afghanistan, warga mulai kembali ke rumah mereka setelah pertempuran mereda selama gencatan senjata. Namun, harapan akan perdamaian pupus setelah serangan udara yang dilancarkan Pakistan pasca berakhirnya gencatan senjata. Seorang pejabat Afghanistan melaporkan bahwa serangan tersebut menewaskan 10 warga sipil dan melukai 12 lainnya di distrik Urgun.
Sebelumnya, Direktur Kesehatan Spin Boldak melaporkan 40 warga sipil tewas dan 170 lainnya luka-luka akibat bentrokan di perbatasan. Misi PBB di Afghanistan (UNAMA) juga mencatat setidaknya 37 orang tewas dan 425 lainnya luka-luka di beberapa provinsi yang terdampak.
Pakistan menuduh Kabul melindungi militan yang merencanakan serangan dari wilayah Afghanistan, tuduhan yang dibantah oleh pemerintah Taliban. Seorang pejabat senior Taliban bahkan menuduh Pakistan melanggar gencatan senjata dan memperingatkan akan melakukan pembalasan. Ketegangan ini menunjukkan bahwa perdamaian di perbatasan kedua negara masih jauh dari harapan.
