Internationalmedia.co.id – Aksi demonstrasi besar-besaran bertajuk ‘No Kings’ menggema di seluruh 50 negara bagian Amerika Serikat. Massa turun ke jalan menyuarakan kemarahan atas kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai mengancam pilar-pilar demokrasi.
Aksi unjuk rasa yang dipicu oleh berbagai isu krusial, termasuk penggerebekan imigrasi, pengerahan pasukan pemerintah di berbagai kota, serta pemangkasan anggaran program federal, terutama layanan kesehatan, menyedot perhatian publik.

Di jantung kota New York, ribuan demonstran memadati Times Square pada Sabtu pagi. Mereka membawa spanduk-spanduk bertuliskan "Demokrasi bukan Monarki" dan "Konstitusi tidak opsional", menyuarakan kekhawatiran mendalam akan masa depan demokrasi Amerika.
Penyelenggara aksi menegaskan bahwa demonstrasi berjalan damai, dengan prinsip anti-kekerasan sebagai landasan utama. Di tengah kerumunan, terdengar seruan "inilah demokrasi" yang diiringi tabuhan drum dan alat musik lainnya. Kepolisian New York melaporkan bahwa lebih dari 100.000 orang berpartisipasi dalam aksi damai di lima wilayah kota, tanpa ada penangkapan yang dilakukan.
Para demonstran mengecam taktik keras Trump, termasuk serangan terhadap media, lawan politik, dan imigran. Seorang peserta aksi, Colleen Hoffman (69), mengungkapkan kekhawatirannya akan "kematian negara sebagai negara demokrasi". Sementara itu, Beth Zasloff, seorang penulis dan editor lepas, mengaku marah dan tertekan atas "gerakan menuju fasisme dan pemerintahan otoriter" di bawah pemerintahan Trump.
Kebijakan imigrasi Trump juga menjadi sorotan tajam. Massimo Mascoli (68), seorang warga New Jersey yang tumbuh besar di Italia, khawatir AS akan mengikuti jejak kelam negaranya pada abad lalu. Ia mengkhawatirkan tindakan keras imigrasi dan pemotongan anggaran kesehatan.
Anthony Lee, seorang pegawai Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) yang dirumahkan akibat penutupan pemerintah, turut berpartisipasi dalam aksi untuk melindungi layanan publik. Ia mengungkapkan kekhawatirannya atas "kehancuran yang dialami pemerintah dan layanan publik".
Pemimpin Minoritas Senat, Chuck Schumer, juga bergabung dalam aksi protes tersebut. Ia menegaskan bahwa "kita tidak punya diktator di Amerika" dan tidak akan membiarkan Trump "mengikis demokrasi".
Aksi ‘No Kings’ ini menjadi sinyal kuat akan meningkatnya kekhawatiran publik terhadap arah kebijakan pemerintahan Trump dan dampaknya terhadap demokrasi Amerika. Aksi ini menjadi bukti bahwa suara rakyat tidak akan tinggal diam melihat potensi ancaman terhadap nilai-nilai fundamental negara.
