Internationalmedia.co.id melaporkan, gelombang panas ekstrem yang melanda Iran memaksa pemerintah untuk mengambil langkah drastis. Rabu besok (6/8), banyak kantor pemerintahan di Iran akan ditutup sementara. Keputusan ini diambil untuk mengurangi beban konsumsi listrik yang melonjak akibat suhu udara yang mencapai 50 derajat Celcius di beberapa wilayah.
Informasi dari kantor berita IRNA dan AFP menyebutkan, setidaknya 15 dari 31 provinsi di Iran akan merasakan dampak kebijakan ini, termasuk provinsi-provinsi utama seperti Azerbaijan Barat, Ardabil, Hormozgan, Alborz, dan Teheran. Gubernur Teheran, Mohammad Sadegh Motamedian, menjelaskan bahwa penutupan kantor ini merupakan permintaan langsung dari Kementerian Energi Iran untuk mengatur konsumsi energi, khususnya air dan listrik. Layanan darurat dan layanan esensial lainnya tetap beroperasi normal selama penutupan.

Gelombang panas yang dimulai sejak pertengahan Juli lalu telah membebani jaringan listrik nasional, menyebabkan pemadaman bergilir di berbagai wilayah. Situasi ini diperparah oleh kekeringan terburuk dalam seabad terakhir yang melanda Iran, memaksa otoritas Teheran untuk mengurangi tekanan air utama guna menghemat cadangan air waduk yang menipis. Krisis air semakin akut di provinsi-provinsi selatan yang gersang, akibat pengelolaan sumber daya air yang buruk dan dampak perubahan iklim. Situasi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah Iran dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata.

