Internationalmedia.co.id, New York – Tensi diplomatik antara China dan Jepang kian membara! Beijing secara resmi mengadukan Tokyo ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atas perselisihan yang semakin meruncing. Dalam surat yang dilayangkan ke PBB, China menuding Jepang melontarkan ancaman "intervensi bersenjata" terkait isu Taiwan.
Pemerintah China menegaskan akan membela diri dalam sengketa diplomatik yang telah berlangsung selama dua pekan terakhir ini. Duta Besar China untuk PBB, Fu Cong, melalui surat yang dikirimkan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Jumat (21/11) waktu setempat, menuduh Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi melakukan "pelanggaran berat terhadap hukum internasional" dan norma-norma diplomatik.

Pemicunya adalah pernyataan PM Takaichi yang menyebutkan bahwa serangan China terhadap Taiwan berpotensi memicu respons militer dari Jepang. "Jika Jepang berani mencoba intervensi bersenjata dalam situasi lintas selat, itu akan menjadi tindakan agresi," tegas Fu dalam suratnya. China menyatakan akan "dengan tegas mempraktikkan hak membela diri berdasarkan Piagam PBB dan hukum internasional, serta dengan tegas mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorialnya."
Dalam suratnya, Fu menuntut agar Jepang "berhenti melakukan provokasi dan melewati batas, serta menarik kembali pernyataannya yang keliru" yang dianggap "secara terbuka menantang kepentingan inti China". China memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya dan tidak mengesampingkan penggunaan kekerasan untuk menguasai pulau tersebut.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Kantor PM Jepang maupun Kementerian Luar Negeri Jepang terkait surat dari Dubes China tersebut. Perselisihan ini telah memicu krisis bilateral terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh pernyataan kontroversial PM Takaichi yang dianggap mengancam kelangsungan hidup Jepang. Pernyataan ini menandai pergeseran sikap Jepang yang sebelumnya menghindari pembahasan isu Taiwan secara terbuka.
Reaksi keras dari Beijing berimbas pada kerja sama perdagangan, sektor pariwisata, pembatalan konser musisi Jepang di China, dan penghindaran pelabuhan Jepang oleh kapal pesiar China.

