Negosiasi gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja yang dijadwalkan hari ini mendapat dukungan tak terduga. Internationalmedia.co.id melaporkan, pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) telah berada di Malaysia untuk memfasilitasi upaya perdamaian kedua negara yang tengah berkonflik. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengonfirmasi hal ini, seraya menambahkan bahwa Presiden AS Donald Trump juga ikut memantau situasi dengan saksama.
Rubio menyatakan harapannya agar konflik segera berakhir. Kehadiran pejabat AS di Malaysia, menurutnya, merupakan bentuk dukungan nyata terhadap proses perdamaian. Pernyataan ini disampaikan menyusul peningkatan ketegangan antara Thailand dan Kamboja yang bermula dari tewasnya seorang tentara Kamboja pada akhir Mei lalu. Konflik yang kembali meletus Kamis lalu bahkan disebut sebagai pertempuran terburuk dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Trump sendiri mengklaim telah berkomunikasi langsung dengan pemimpin kedua negara, dan dalam unggahan di media sosialnya, ia menyatakan bahwa kedua pemimpin telah sepakat untuk segera bertemu dan merumuskan gencatan senjata. Lebih jauh, Trump bahkan mengancam akan mengenakan tarif ekonomi jika pertempuran tidak segera dihentikan. Ancaman tersebut berupa tarif 36% atas sebagian besar ekspor kedua negara ke AS, mulai 1 Agustus mendatang. Ia juga menyatakan bahwa pembicaraan tarif dengan kedua negara ditunda hingga pertempuran berakhir. Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen AS untuk menyelesaikan konflik tersebut. Proses mediasi di Malaysia diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan damai yang mengakhiri ketegangan di perbatasan kedua negara.

