Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memuncak menyusul pengerahan kapal induk Amerika Serikat. Iran, melalui wakil ketua parlemennya, menegaskan tidak akan ragu memberikan respons tegas terhadap setiap bentuk aksi militer yang dilancarkan Washington. Situasi ini memicu kekhawatiran global akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas.
Hamidreza Hajibabaei, Wakil Ketua Parlemen Iran, dalam sebuah pertemuan dengan delegasi parlemen Indonesia di sela-sela acara di Bahrain, memperingatkan bahwa negaranya siap membalas dengan "tanggapan tegas" jika AS berani melancarkan serangan. Pernyataan ini, seperti dilansir Al-Jazeera pada Selasa (27/1/2026), menggarisbawahi kesiapan Iran untuk membela diri di tengah peningkatan kehadiran militer AS.

Hajibabaei menegaskan prinsip dasar negaranya. "Republik Islam tidak pernah dan tidak akan pernah memulai ancaman, ketegangan, atau konfrontasi. Namun, setiap tindakan agresi langsung atau tidak langsung akan ditanggapi dengan respons tegas, segera, dan proporsional berdasarkan hak-hak yang tidak dapat dicabut dari negara kami dan sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB," katanya, seperti dikutip Press TV. Ia menambahkan bahwa Presiden AS bahkan mengabaikan kepentingan sekutu-sekutunya sendiri dalam kebijakan luar negerinya.
Lebih lanjut, Hajibabaei menuduh Presiden Trump merusak tatanan norma internasional demi membenarkan agresi militer dan eksploitasi sumber daya. Ia juga menyoroti upaya terorganisir yang dilakukan AS untuk melemahkan dan mendiskreditkan organisasi internasional, serta menekankan bahwa tidak ada negara, sebesar apapun, yang kebal terhadap tuntutan, tekanan, dan intimidasi berlebihan yang dilakukan Washington.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi pengerahan "armada besar" ke dekat Iran. Pengerahan ini, yang mencakup kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kelompok tempurnya, telah tiba di kawasan Timur Tengah. Trump bahkan membandingkan skala pengerahan ini dengan operasi militer AS di Venezuela beberapa waktu lalu, yang berujung pada penggulingan dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
"Kita memiliki armada besar di dekat Iran. Lebih besar dari Venezuela," kata Trump dalam wawancara dengan media Axios, seperti dikutip The Times of Israel dan TASS pada Selasa (27/1). Pernyataan ini semakin menambah panas tensi di kawasan, memunculkan pertanyaan tentang kemungkinan skenario serupa di Iran.
