Internationalmedia.co.id – News, Jakarta – Di tengah tantangan ekonomi yang kerap menghimpit, banyak keluarga dihadapkan pada dilema pemenuhan kebutuhan pendidikan anak-anak mereka. Salah satu kendala yang sering muncul adalah tunggakan administrasi dan biaya perlengkapan sekolah, termasuk seragam, yang tak jarang menghambat kelanjutan studi siswa. Menanggapi aduan dari seorang warga, Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth, menunjukkan kepeduliannya dengan bertindak langsung. Ia melunasi seluruh tunggakan administrasi pendidikan serta menebus seragam sekolah Ibrahim, seorang siswa SMK Al-Irsyad, Jakarta Pusat, menggunakan dana pribadinya. Langkah ini diambil agar Ibrahim dapat kembali menempuh pendidikan dengan tenang dan bermartabat.
Kenneth menjelaskan, inisiatif bantuan ini bertujuan memastikan siswa tersebut dapat melanjutkan proses belajar tanpa terbebani masalah administrasi atau kelengkapan sekolah. "Saya menerima pengaduan dari salah satu warga yang kesulitan melunasi tunggakan administrasi pendidikan di SMK Al-Irsyad, Jakarta Pusat. Siswa ini belum bisa mengambil seragamnya karena masih ada tunggakan. Setelah memahami kondisinya secara langsung, saya memutuskan untuk membantu menggunakan dana dari gaji dan tunjangan pribadi saya," ungkap Kenneth dalam keterangannya, Senin (10/8/2026). Ia menambahkan, keinginannya adalah agar perjalanan pendidikan siswa ini dapat terus berlanjut tanpa hambatan finansial.

Pria yang dikenal akrab sebagai Bang Kent ini menegaskan prinsip dasar bahwa pendidikan adalah hak fundamental bagi setiap anak, yang seharusnya tidak terhalang oleh kendala biaya administrasi atau kebutuhan perlengkapan sekolah. "Pendidikan adalah hak setiap siswa dan tidak boleh terhambat hanya karena persoalan administrasi. Bagaimana siswa bisa semangat belajar jika harus ke sekolah dengan pakaian seadanya karena belum mampu membayar seragam?" tanya Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta itu. Ia menjelaskan bahwa skema bantuan ini murni berasal dari uang pribadi, yakni gaji dan tunjangan yang ia sisihkan. "Ketika saya mengetahui ada siswa yang kesulitan, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk hadir dan membantu semampu saya. Bantuan ini adalah wujud kepedulian agar mereka bisa melanjutkan pendidikan dengan tenang dan bermartabat," tambahnya.
Menurut Kenneth, kepedulian terhadap akses pendidikan yang merata tidak semata-mata menjadi beban pemerintah. Seluruh elemen masyarakat, katanya, juga memikul tanggung jawab untuk memastikan tidak ada satu pun siswa yang kehilangan kesempatan emas untuk belajar akibat keterbatasan ekonomi. "Saya berharap langkah kecil ini dapat memicu semangat gotong royong dari berbagai pihak untuk turut serta membantu siswa-siswa yang menghadapi kesulitan finansial. Jangan sampai ada lagi siswa yang merasa malu untuk datang ke sekolah hanya karena tidak memiliki seragam," ujar Alumni PPRA Lemhannas RI Angkatan LXII tersebut. Ia menekankan bahwa pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat, masing-masing memiliki peran krusial dalam menjamin tidak ada siswa yang putus sekolah atau kehilangan kesempatan belajar karena kendala biaya administrasi dan perlengkapan.
Lebih lanjut, Kenneth juga mendesak pemerintah daerah untuk memperkuat kebijakan perlindungan bagi siswa dari keluarga kurang mampu, melalui skema bantuan yang lebih terarah dan tepat sasaran. "Ke depan, saya akan terus mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar memperkuat kebijakan perlindungan bagi siswa dari keluarga pra-sejahtera, mulai dari pembebasan tunggakan, penyediaan seragam gratis, hingga program beasiswa," tegasnya. Hal ini, menurutnya, akan meminimalkan persoalan tunggakan administrasi melalui mekanisme bantuan yang efektif. "Pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa, oleh karena itu, setiap siswa harus diberikan kesempatan yang setara untuk meraih cita-citanya," pungkasnya.
Tak hanya itu, Kent juga mengajak seluruh lapisan masyarakat agar tidak sungkan untuk melaporkan jika menemukan kasus siswa yang terancam putus sekolah akibat kesulitan ekonomi. "Kami mengajak masyarakat untuk tidak ragu menyampaikan apabila menemukan siswa yang terancam tidak bisa melanjutkan sekolah karena kendala ekonomi, baik itu tunggakan, belum memiliki seragam, buku, atau sepatu," ujarnya. Ia menegaskan komitmennya: "Selama saya masih diberikan rezeki dan kesehatan, dan selama ada kesempatan untuk membantu, saya akan berupaya hadir dengan segala kemampuan yang saya miliki. Semoga ikhtiar kecil ini dapat membawa manfaat serta memberikan harapan bagi para siswa untuk terus belajar dan meraih masa depan yang lebih cerah."
Kent kembali menegaskan komitmennya untuk terus berjuang agar tidak ada lagi siswa di Jakarta yang terhambat mengenyam pendidikan hanya karena persoalan biaya administrasi atau kelengkapan sekolah. Baginya, kehadiran seorang wakil rakyat harus mampu memberikan manfaat nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama mereka yang sedang menghadapi kesulitan. "Saya berharap langkah ini tidak hanya menjadi penyemangat bagi para siswa untuk terus mengejar cita-cita, tetapi juga menjadi bukti konkret bahwa kehadiran wakil rakyat harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan," tutupnya, mengakhiri pernyataannya.
