Internationalmedia.co.id – News – Teheran, Iran – Di tengah gejolak konflik yang memanas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, Garda Revolusi Iran (IRGC) telah mengajukan tawaran bersyarat yang mengguncang dunia internasional terkait akses ke Selat Hormuz. Jalur maritim vital ini akan kembali terbuka bagi negara mana pun, asalkan mereka bersedia mengusir Duta Besar Amerika Serikat dan Israel dari wilayah kedaulatan mereka.
Pengumuman yang disiarkan melalui televisi pemerintah Iran, IRIB, pada Senin malam itu, menegaskan bahwa "setiap negara Arab atau negara Eropa yang mengusir Duta Besar Israel dan Amerika dari wilayahnya, akan memiliki kebebasan dan wewenang penuh untuk melewati Selat Hormuz mulai besok." Ini menandai langkah strategis Iran di tengah ketegangan yang terus meningkat selama sepekan terakhir.

Penutupan Selat Hormuz sendiri terjadi setelah serangkaian serangan udara skala besar yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Iran merespons dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone ke target-target di Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Eskalasi ini praktis melumpuhkan lalu lintas di selat tersebut, sebuah arteri vital bagi perdagangan global.
Selat Hormuz dikenal sebagai jalur perairan strategis yang menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan volume ekspor gas alam cair global. Menurut analisis dari Kpler, perusahaan yang mengoperasikan platform MarineTraffic, lalu lintas kapal tanker di sana anjlok hingga 90 persen dalam kurun waktu seminggu terakhir. Kondisi perang ini juga memicu lonjakan harga minyak global, melampaui US$100 per barel, tidak hanya karena penutupan selat tetapi juga perlambatan produksi minyak di Timur Tengah.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan peringatan keras kepada Iran, mengancam akan "menghantam" Teheran puluhan kali lebih keras jika pemblokiran aliran minyak melalui jalur perairan strategis itu terus berlanjut. Namun, juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, melalui kantor berita Tasnim, menegaskan bahwa pasukan Iran tidak akan mengizinkan ekspor minyak dari kawasan ke sekutu-sekutu AS dan Israel selama perang masih berlangsung.
"Angkatan Bersenjata Iran… tidak akan mengizinkan ekspor satu liter pun minyak dari kawasan ke pihak musuh dan sekutu-sekutunya hingga pemberitahuan lebih lanjut," tegas Naini, menambahkan bahwa setiap perubahan akan bergantung pada kondisi konflik.
Situasi di Selat Hormuz dan Timur Tengah secara keseluruhan tetap menjadi perhatian utama dunia, dengan implikasi ekonomi dan geopolitik yang luas. Ikuti terus perkembangan terkini hanya di internationalmedia.co.id.

