Internationalmedia.co.id – Isu keretakan hubungan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri (Menlu) Sergei Lavrov mencuat ke permukaan. Kabar ini berhembus kencang setelah rencana pertemuan antara Putin dan mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump urung terlaksana bulan lalu. Kremlin pun dengan sigap membantah segala spekulasi yang beredar.
Rumor yang beredar menyebutkan bahwa Lavrov kehilangan kepercayaan Putin akibat kegagalan pertemuan dengan Trump. Lavrov, seorang diplomat kawakan dengan gaya negosiasi yang dikenal keras, sempat berbicara melalui telepon dengan mantan Menlu AS Marco Rubio pada 20 Oktober lalu. Pembicaraan tersebut membahas kemungkinan pertemuan antara Putin dan Trump di Budapest, Hungaria, dengan agenda utama potensi kesepakatan damai untuk Ukraina.

Meskipun pernyataan resmi dari kedua negara tidak mengindikasikan adanya masalah dalam percakapan tersebut, Trump secara tiba-tiba menyatakan ketidak tertarikannya untuk mengadakan pertemuan yang dianggapnya "buang-buang waktu". Ketidakhadiran Lavrov dalam rapat penting Dewan Keamanan Rusia, serta keputusan Putin mengirim Wakil Kepala Staf Kremlin untuk memimpin delegasi Rusia dalam pertemuan G20 di Afrika Selatan akhir bulan ini, semakin memanaskan spekulasi mengenai kemarahan Putin terhadap Lavrov.
Putin sendiri telah menegaskan bahwa pemulihan hubungan antara Moskow dan Washington adalah kepentingan nasional Rusia dan krusial bagi keamanan global, mengingat kedua negara memiliki persenjataan nuklir yang besar.
Spekulasi mengenai perselisihan ini pertama kali dimunculkan oleh beberapa saluran Telegram anonim di Rusia, media berbahasa Rusia yang kritis terhadap Kremlin, serta media-media Ukraina. Menanggapi pertanyaan mengenai apakah Lavrov telah kehilangan dukungan Putin, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov dengan tegas membantah. "Tidak ada yang benar dalam laporan-laporan ini," ujarnya kepada wartawan pada Jumat (7/11).
Ketika ditanya apakah Lavrov akan tetap menjabat sebagai Menlu Rusia, Peskov menjawab dengan singkat, "Tentu saja. Lavrov bekerja sebagai Menteri Luar Negeri, tentu saja."
