Internationalmedia.co.id – Perintah mengejutkan dari mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memulai kembali uji coba senjata nuklir telah memicu gelombang reaksi keras dari berbagai negara, termasuk Rusia, China, Iran, hingga para penyintas bom atom di Jepang. Pernyataan kontroversial ini disampaikan Trump melalui media sosial Truth Social, saat dirinya berada di Korea Selatan untuk menghadiri KTT APEC dan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping.
Trump berdalih bahwa AS memiliki lebih banyak senjata nuklir dibandingkan negara lain, dan langkah ini diambil karena negara lain juga sedang melakukan uji coba serupa. "Karena negara-negara lain sedang menguji program, saya telah menginstruksikan Departemen Perang (nama baru Departemen Pertahanan-red) untuk memulai uji coba senjata nuklir kita secara setara," tegasnya.

China, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun, mengingatkan AS untuk mematuhi larangan uji coba nuklir global dan menjaga sistem perlucutan senjata global. Sementara itu, Rusia memberikan reaksi hati-hati, menyatakan bahwa mereka tidak melakukan uji coba serupa, tetapi akan mengikutinya jika AS melakukannya. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa saat ini sedang berlaku moratorium uji coba nuklir.
Iran mengecam rencana AS sebagai langkah "regresif dan tidak bertanggung jawab". Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyindir AS yang terus menjelek-jelekkan program nuklir Iran yang diklaim untuk tujuan damai.
Reaksi paling keras datang dari kelompok penyintas bom atom Jepang, Nihon Hidankyo, yang menyebut perintah Trump "sama sekali tidak dapat diterima". Mereka mengirimkan surat protes ke Kedutaan Besar AS di Tokyo, menegaskan bahwa arahan tersebut bertentangan dengan upaya dunia untuk menciptakan dunia tanpa senjata nuklir. Wali Kota Nagasaki, Shiro Suzuki, juga mengecam perintah Trump, menyebutnya "menginjak-injak upaya orang-orang di seluruh dunia yang telah bersusah payah mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir".
