Internationalmedia.co.id – Chairman Prince Holding Group di Kamboja, Chen Zhi, menjadi sorotan setelah otoritas Amerika Serikat (AS) menuduhnya terlibat dalam sindikat kejahatan transnasional terbesar di Asia. Dana hasil penipuan kripto yang mencapai jutaan dolar per hari diduga digunakan untuk membeli karya seni Picasso, jet pribadi, properti mewah di London, hingga suap pejabat publik.
Chen Zhi dituduh sebagai dalang di balik skema penipuan daring yang merugikan korban hingga miliaran dolar. Jaksa AS bahkan telah menyita aset kripto senilai 15 miliar dolar AS dari Chen setelah penyelidikan panjang. Operasi kejahatan ini disebut-sebut dilindungi oleh politisi berkuasa, menjadikan Chen sebagai sosok kontroversial dalam dunia bisnis dan politik.

Perusahaan milik Chen, yang bergerak di berbagai sektor mulai dari properti hingga perbankan, juga dicap sebagai organisasi kriminal transnasional. Ia didakwa secara in absentia di New York atas dugaan konspirasi pencucian uang dan penipuan. Meski demikian, Chen masih bebas karena Kamboja tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan AS.
Otoritas AS dan Inggris menuding Prince Group sebagai wadah bagi ratusan perusahaan cangkang yang digunakan untuk menyalurkan uang haram ke berbagai negara. Skema yang dikenal sebagai ‘sembelih babi’ ini melibatkan berbagai tindak kejahatan, termasuk kekerasan terhadap pekerja, suap pejabat asing, dan pencucian uang melalui judi daring serta penambangan kripto.
Jaksa AS Joseph Nocella menyebut operasi penipuan yang diduga didalangi Chen Zhi sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah. Sementara itu, Jacob Sims dari Harvard University Asia Center menggambarkan Chen sebagai "wajah rapi dari ekonomi kriminal yang dilindungi negara."
