Internationalmedia.co.id – Kelompok Houthi kembali menjadi sorotan dunia setelah melakukan penahanan terhadap sejumlah staf Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Yaman. Kantor PBB di negara tersebut mengumumkan bahwa 20 stafnya masih ditahan oleh kelompok pemberontak tersebut setelah kantor mereka di Sanaa, ibu kota Yaman, diserbu sehari sebelumnya.
Menurut juru bicara koordinator PBB di Yaman, Jean Alam, lima staf nasional dan lima belas staf internasional masih ditahan di dalam kompleks PBB. PBB telah mengambil langkah cepat dengan menghubungi otoritas di Sanaa, negara-negara anggota terkait, dan pemerintah Yaman untuk segera menyelesaikan situasi yang serius ini. Mereka mendesak pembebasan seluruh personel dan pemulihan kendali penuh atas fasilitas PBB di Sanaa.

Seorang pejabat PBB yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa perwakilan UNICEF di Yaman, Peter Hawkins, termasuk di antara mereka yang ditahan. Informasi ini juga dikonfirmasi oleh dua sumber keamanan Houthi.
Aksi penyerbuan kantor PBB oleh Houthi bukan pertama kalinya terjadi. Pada 31 Agustus lalu, mereka juga menyerbu kantor PBB di Sanaa dan menahan lebih dari 11 karyawan. Seorang pejabat senior Houthi menuduh para karyawan tersebut menjadi mata-mata untuk Amerika Serikat dan Israel.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, mengecam tuduhan tersebut sebagai "berbahaya dan tidak dapat diterima". Ia juga menanggapi pidato pemimpin Houthi, Abdelmalek al-Huthi, yang mengklaim pasukannya telah membongkar "salah satu sel mata-mata paling berbahaya" yang terkait dengan organisasi kemanusiaan seperti Program Pangan Dunia dan UNICEF.
Penyerbuan terbaru ini menambah daftar panjang penangkapan personel PBB yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir di wilayah yang dikuasai oleh kelompok yang didukung Iran tersebut. Sejak 31 Agustus 2025, 21 personel PBB telah ditangkap, selain 23 anggota dan mantan anggota LSM internasional yang juga ditahan.
