Internationalmedia.co.id – Di tengah pilu Jalur Gaza, secercah harapan lahir bersamaan dengan seorang bayi perempuan yang diberi nama unik: Singapore. Pemberian nama ini bukan tanpa alasan, melainkan ungkapan terima kasih mendalam seorang ayah atas bantuan kemanusiaan yang tak ternilai dari Singapura.
Hamdan Hadad, ayah sang bayi, adalah seorang pekerja di dapur umum yang didukung oleh badan amal Singapura di Gaza. Ia menuturkan, selama dua tahun terakhir, dapur umum tersebut menjadi tumpuan hidupnya dan keluarga, terutama sang istri yang tengah mengandung. Makanan bergizi yang disediakan secara rutin membantu mereka bertahan dari kelaparan yang menghantui akibat konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas.

"Saya sangat bahagia dan ingin menamainya Singapore karena saya sangat mencintai mereka," ujar Hamdan dengan tulus, seperti dikutip dari Love Aid Singapore.
Bayi Singapore, yang lahir pada 16 Oktober dengan berat 2,7 kg, menjadi simbol harapan dan persahabatan di tengah konflik. Love Aid Singapore, organisasi yang dipimpin aktivis Gilbert Goh, membagikan kabar bahagia ini di media sosial, sembari mendoakan kesehatan sang bayi dan harapan akan "dunia baru yang cerah" dalam bentuk gencatan senjata permanen.
Konflik Israel-Hamas yang kembali pecah pada 2023 telah merenggut puluhan ribu nyawa, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Bantuan kemanusiaan dari berbagai negara, termasuk Singapura, menjadi sangat krusial untuk meringankan penderitaan warga Gaza. Palang Merah Singapura sendiri telah menyumbangkan setidaknya $1,9 juta dalam bentuk bantuan sejak 2023.
Kisah bayi Singapore ini menjadi pengingat bahwa di tengah gelapnya perang, masih ada kebaikan dan harapan yang bisa tumbuh. Sebuah nama, sebuah simbol, sebuah ungkapan terima kasih yang melampaui batas negara dan konflik.
