Internationalmedia.co.id – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melontarkan pernyataan keras terkait kelanjutan konflik di Gaza. Ia menegaskan bahwa perang tidak akan berakhir sebelum kelompok Hamas dilucuti senjatanya secara total dan wilayah Gaza didemiliterisasi. Pernyataan ini muncul di tengah proses penyerahan jenazah sandera oleh Brigade Ezzedine Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat.
Kantor Netanyahu mengumumkan bahwa tim Palang Merah telah menerima jenazah dua sandera dari Hamas dan menyerahkannya kepada pasukan Israel di Gaza. Jenazah tersebut akan dibawa ke Israel untuk proses identifikasi lebih lanjut. Isu keberadaan jenazah sandera di Gaza menjadi poin penting dalam implementasi fase pertama gencatan senjata. Israel bahkan mengaitkan pembukaan kembali perlintasan Rafah yang vital dengan penemuan jenazah para sandera tersebut.

Netanyahu menekankan pentingnya penyelesaian fase kedua gencatan senjata untuk mengakhiri perang secara permanen. Fase ini, menurutnya, mencakup pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi Jalur Gaza. "Jika itu berhasil diselesaikan – semoga dengan cara yang mudah, tetapi jika tidak, dengan cara yang sulit – maka perang akan berakhir," tegasnya dalam sebuah wawancara dengan Channel 14 Israel.
Namun, Hamas sejauh ini menolak gagasan pelucutan senjata dan justru berusaha untuk menegaskan kembali kendalinya atas Jalur Gaza sejak jeda pertempuran diberlakukan. Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Presiden AS Donald Trump, Hamas telah membebaskan 20 sandera yang masih hidup, serta jenazah sembilan warga Israel dan satu warga Nepal.
Sebagai imbalan, Israel telah membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina dan 135 jenazah warga Palestina lainnya sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober. Hamas menyatakan bahwa mereka membutuhkan waktu dan bantuan teknis untuk mengevakuasi jenazah yang tersisa, yang diklaim terkubur di bawah reruntuhan Gaza.
Brigade al-Qassam mengumumkan bahwa dua jenazah yang akan dipulangkan telah dievakuasi. Netanyahu mengisyaratkan bahwa pembukaan kembali perbatasan Rafah ke Mesir dapat bergantung pada kepulangan semua jenazah sandera yang masih berada di Gaza oleh Hamas.
Misi Palestina di Kairo sempat mengumumkan bahwa perbatasan tersebut dapat dibuka paling cepat pada Senin, namun kantor Netanyahu kemudian mengeluarkan arahan agar penyeberangan Rafah tetap ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut. "Pembukaan kembali penyeberangan ini akan dipertimbangkan berdasarkan bagaimana Hamas memenuhi perannya dalam memulangkan para sandera dan jenazah korban, serta dalam mengimplementasikan kerangka kerja yang disepakati," demikian pernyataan dari kantor Netanyahu.
Hamas memperingatkan bahwa penutupan penyeberangan Rafah akan menyebabkan "keterlambatan yang signifikan dalam pengambilan dan pemindahan jenazah". Kondisi ini semakin memperumit upaya perdamaian dan menimbulkan ketidakpastian mengenai masa depan konflik di Gaza.
