Internationalmedia.co.id – Gencatan senjata di Jalur Gaza menghadirkan secercah harapan bagi warga Palestina yang kembali ke rumah mereka. Namun, di balik kelegaan itu, tersembunyi bahaya laten yang mengintai: bom-bom yang belum meledak.
Organisasi non-pemerintah, Handicap International, memperingatkan risiko "sangat besar" yang dihadapi para pengungsi akibat amunisi yang belum meledak. Mereka mendesak agar peralatan penjinak bom segera dikirimkan ke Gaza.

"Risikonya sangat besar. Diperkirakan 70.000 ton bahan peledak telah dijatuhkan di Gaza sejak awal perang pada Oktober 2023," ungkap Direktur Handicap International, Anne-Claire Yaeesh.
Senjata yang belum meledak, seperti bom, granat, hingga peluru biasa, menjadi pemandangan umum di Gaza selama dua tahun konflik. Yaeesh menambahkan, "Lapisan puing dan tingkat akumulasinya sangat tinggi," memperburuk kondisi lingkungan yang sudah kompleks akibat padatnya penduduk.
Badan Aksi Ranjau PBB (UNMAS) memperkirakan 5-10% amunisi yang ditembakkan ke Gaza tidak meledak. Pertempuran yang terus berlanjut, termasuk operasi skala besar Israel di Kota Gaza pada September lalu, semakin meningkatkan risiko.
UNMAS mengakui bahwa pembatasan selama dua tahun terakhir menghalangi operasi survei skala besar di Gaza. Akibatnya, mereka tidak memiliki gambaran komprehensif tentang ancaman alat peledak di wilayah tersebut.
Namun, sejak gencatan senjata, permintaan akan keahlian teknis melonjak. UNMAS fokus pada keamanan operasi pengelolaan puing, terutama di jalan-jalan yang digunakan pengungsi untuk kembali ke rumah.
Ironisnya, UNMAS belum mendapat izin dari otoritas Israel untuk membawa peralatan penghancur persenjataan yang belum meledak. Tiga kendaraan lapis baja masih tertahan di perbatasan, padahal kehadirannya krusial untuk operasi yang lebih aman dan berskala besar. Kondisi ini menambah kekhawatiran akan keselamatan warga Gaza yang kembali ke rumah mereka.
