Internationalmedia.co.id – Gencatan senjata yang seharusnya menjadi momen pemulihan di Gaza, justru diwarnai insiden mematikan. Militer Israel dilaporkan kembali melepaskan tembakan, menewaskan sejumlah warga Palestina di wilayah tersebut.
Insiden yang terjadi pada Selasa (14/10) waktu setempat ini, menurut keterangan militer Israel, menyasar sekelompok orang di Jalur Gaza utara yang dianggap "tersangka" dan mendekati pasukan mereka. Klaim ini langsung memicu kecaman, mengingat gencatan senjata seharusnya menghentikan segala bentuk agresi.

Otoritas kesehatan Gaza melaporkan setidaknya enam warga Palestina tewas akibat tembakan tersebut. Militer Israel berdalih bahwa tindakan mereka dilakukan karena orang-orang tersebut melanggar batas wilayah yang telah disepakati dalam perjanjian gencatan senjata. Mereka mengklaim bahwa orang-orang tersebut mengabaikan peringatan untuk mundur sebelum ditembak.
Namun, otoritas kesehatan Gaza memberikan keterangan yang berbeda. Mereka menyebutkan bahwa lima orang tewas akibat serangan drone Israel saat memeriksa rumah-rumah di pinggiran timur Kota Gaza. Serangan udara lainnya juga menewaskan satu orang dan melukai lainnya di dekat Khan Younis, Jalur Gaza selatan.
Hamas sendiri menuduh Israel telah melanggar gencatan senjata yang baru berjalan selama lima hari. Tuduhan ini semakin memperkeruh suasana dan menimbulkan pertanyaan tentang komitmen Israel terhadap perjanjian yang telah disepakati.
Di tengah situasi yang memanas, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak Hamas untuk membebaskan jenazah para sandera yang masih ditahan di Gaza. Trump juga menyatakan bahwa sudah waktunya untuk beralih ke fase berikutnya dalam upaya perdamaian di Gaza.
"Semua dua puluh sandera telah kembali dan rasanya sebaik yang diharapkan. Beban berat telah terangkat, tetapi pekerjaan BELUM SELESAI," kata Trump di jejaring sosial Truth Social miliknya.
Unggahan Trump muncul setelah kunjungannya ke Israel dan Mesir. Seorang pejabat senior Hamas menyatakan bahwa kelompok tersebut akan menyerahkan empat hingga enam jenazah sandera sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
Situasi di Gaza masih sangat tegang. Insiden penembakan oleh militer Israel dan tuduhan pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas mengancam keberlangsungan perjanjian yang telah disepakati. Masa depan perdamaian di wilayah tersebut masih menjadi tanda tanya besar.
