Internationalmedia.co.id – Situasi politik di Madagaskar memanas setelah sebuah unit militer elit, CAPSAT, mengklaim telah mengambil alih kekuasaan. Kantor Kepresidenan Madagaskar dengan tegas mengecam tindakan tersebut, menyebutnya sebagai upaya kudeta yang nyata.
"Kehadiran pasukan militer bersenjata di depan istana presiden merupakan tindakan yang jelas merupakan percobaan kudeta," demikian pernyataan resmi dari Kantor Kepresidenan Madagaskar, menanggapi pengumuman CAPSAT.

Pernyataan ini muncul setelah parlemen Madagaskar memakzulkan Presiden Andry Rajoelina atas tuduhan desersi tugas. Pemakzulan ini disahkan dengan 130 suara, jauh melampaui batas konstitusi yang mensyaratkan 2/3 dari total 163 anggota majelis. Presiden Rajoelina sendiri menganggap sidang pemakzulan tersebut tidak sah.
Menyusul pemakzulan tersebut, Kolonel Michael Randrianirina, Kepala Unit Militer CAPSAT, menyatakan bahwa mereka telah mengambil alih kekuasaan. Namun, Kantor Kepresidenan menegaskan bahwa Andry Rajoelina tetap menjabat sebagai presiden dan akan menjaga ketertiban konstitusional serta stabilitas nasional.
Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai masa depan politik Madagaskar. Apakah ini benar-benar sebuah kudeta? Dan bagaimana kelanjutan nasib Presiden Rajoelina? internationalmedia.co.id akan terus memantau dan memberikan informasi terbaru mengenai situasi yang berkembang di Madagaskar.
