Internationalmedia.co.id – Presiden Madagaskar, Andry Rajoelina, mengklaim dirinya kini berada di "tempat aman" menyusul adanya percobaan pembunuhan dan meningkatnya tekanan untuk mundur dari jabatannya. Situasi politik di negara tersebut semakin memanas dengan maraknya unjuk rasa antipemerintah yang meluas.
Rajoelina, dalam pidato yang disiarkan langsung pada Senin (13/10), mengungkapkan adanya rencana pembunuhan terhadap dirinya yang melibatkan personel militer dan politisi. "Sejak 25 September, telah terjadi percobaan pembunuhan terhadap saya dan upaya kudeta. Sekelompok personel militer dan para politisi berencana untuk membunuh saya," ungkapnya. Akibatnya, ia mengaku terpaksa mencari perlindungan untuk keselamatannya.

Gelombang unjuk rasa yang awalnya dipicu oleh pemadaman listrik dan air yang berkepanjangan, kini berkembang menjadi gerakan antipemerintah yang lebih besar. Para demonstran, yang didominasi kaum muda, menuntut pengunduran diri Rajoelina.
Mantan wali kota yang naik ke tampuk kekuasaan melalui kudeta ini, menyerukan penghormatan terhadap konstitusi sebagai solusi untuk mengatasi krisis politik yang semakin dalam. "Hanya ada satu cara untuk menyelesaikan masalah ini; yaitu dengan menghormati konstitusi yang berlaku di negara ini," tegasnya.
Di tengah situasi yang genting ini, beredar laporan bahwa Rajoelina telah meninggalkan Madagaskar dengan menggunakan pesawat militer Prancis. Namun, hingga saat ini, pejabat Prancis belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.
