Internationalmedia.co.id – Wilayah Gaza, Palestina, bersiap memasuki babak baru pasca kesepakatan damai antara Hamas dan Israel. Sebuah era di mana Hamas tak lagi menjadi penguasa tunggal di wilayah tersebut.
Pernyataan mengejutkan ini muncul beberapa hari setelah gencatan senjata diberlakukan, seiring Hamas dan Israel membahas implementasi 20 poin rencana perdamaian yang digagas Presiden AS Donald Trump. Sumber internal Hamas, yang dekat dengan komite negosiasi, mengungkapkan kepada AFP bahwa Hamas siap melepas kendali atas Jalur Gaza, meski tetap menjadi bagian penting dari struktur Palestina.

"Bagi Hamas, pemerintahan Jalur Gaza adalah isu yang sudah selesai. Hamas tidak akan berpartisipasi dalam fase transisi, yang berarti menyerahkan kendali atas Jalur Gaza, tetapi tetap menjadi bagian fundamental dari struktur Palestina," ujar sumber tersebut.
Tak hanya itu, sumber tersebut juga menegaskan bahwa kali ini, tak ada perpecahan di antara anggota senior Hamas, termasuk soal perlucutan senjata, yang selama ini dianggap sebagai garis merah. "Hamas menyetujui gencatan senjata jangka panjang, dan senjatanya tidak akan digunakan sama sekali selama periode ini, kecuali jika terjadi serangan Israel terhadap Gaza," tegasnya.
Rencana perdamaian yang diusulkan Trump juga menekankan bahwa Hamas tidak akan memiliki peran dalam pemerintahan Gaza di masa depan, dan infrastruktur serta persenjataan militernya harus dihancurkan dan tidak dibangun kembali. Sebuah komite Palestina sementara yang teknokratis dan apolitis akan ditugaskan untuk menjalankan layanan publik sehari-hari.
Presiden Trump bahkan mengklaim bahwa Hamas telah mendapatkan "lampu hijau" untuk melancarkan operasi keamanan internal di Jalur Gaza selama gencatan senjata berlangsung. Langkah ini diambil untuk menghentikan tindak pelanggaran hukum dan penjarahan, serta mencegah kekosongan keamanan.
Apakah ini benar-benar awal dari era baru bagi Gaza? Hanya waktu yang bisa menjawab.
