Internationalmedia.co.id – Di bawah pengawalan ketat tentara bersenjata, Israel mengerahkan buldoser untuk membangun jalan baru di Tepi Barat, memicu kontroversi dan kekhawatiran di kalangan warga Palestina. Pembangunan ini dinilai sebagai upaya untuk memperluas permukiman Yahudi dan membatasi ruang gerak warga Palestina.
Ashraf Samara, warga desa Beit Ur al-Fauqa, menyaksikan langsung bagaimana alat berat menggali tanah untuk membuka rute baru bagi permukiman Yahudi. Jalan ini disebut akan membagi wilayah desa dan mempersulit akses warga Palestina ke kota-kota terdekat, tempat kerja, dan lahan pertanian mereka.

"Ini untuk mencegah penduduk menjangkau dan menggunakan wilayah ini," ujar Samara, yang juga anggota dewan desa Beit Ur al-Fauqa, kepada Reuters. Ia menambahkan bahwa pembangunan jalan ini akan "menjebak desa-desa dan komunitas permukiman" dengan membatasi mereka hanya pada area tempat tinggal.
Hagit Ofran, aktivis dari kelompok Peace Now, menuding Israel berupaya menguasai lebih banyak tanah Palestina melalui pembangunan jalan ini. "Mereka melakukannya untuk menetapkan fakta di lapangan," tegas Ofran, seraya menyebut Israel telah mengalokasikan dana besar untuk pembangunan jalan di Tepi Barat sejak serangan Hamas pada Oktober 2023.
Menurut Ofran, pemerintah Israel berencana membangun infrastruktur untuk jutaan pemukim yang ingin mereka tarik ke Tepi Barat. "Tanpa jalan, mereka tidak bisa melakukannya. Jika ada jalan, pada akhirnya, hampir secara alami, para pemukim akan datang," jelasnya.
Pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat, yang dianggap ilegal oleh Palestina dan sebagian besar negara di dunia, terus berkembang pesat di bawah pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Hingga berita ini diturunkan, kantor Netanyahu dan militer Israel belum memberikan tanggapan terkait pembangunan jalan ini.
