Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah pidatonya yang kontroversial di Sidang Umum PBB. Internationalmedia.co.id melaporkan, Trump berpidato jauh melebihi batas waktu yang ditentukan, memicu berbagai reaksi.
Berbicara di hadapan para pemimpin dunia pada Selasa (23/9/2025), Trump menyerang sejumlah negara yang baru-baru ini mengakui negara Palestina. Ia menyebut langkah tersebut sebagai upaya yang kontraproduktif dan justru menghambat pembebasan sandera yang ditawan Hamas di Gaza. Prancis, Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal termasuk di antara negara-negara yang dikecam Trump karena keputusan tersebut. "Seolah ingin mendorong konflik yang berkelanjutan, beberapa anggota badan ini berusaha untuk mengakui negara Palestina secara sepihak," tegas Trump. Ia mendesak agar fokus utama adalah pembebasan sandera, bukan pengakuan negara Palestina.

Pidato Trump yang seharusnya hanya berlangsung 15 menit, justru membengkak hingga 56 menit. Dalam pidato tanpa naskah tersebut—dikarenakan teleprompter yang rusak—Trump menyinggung berbagai hal, mulai dari keberhasilannya selama menjabat, kritik pedas terhadap PBB, hingga penolakan keras terhadap perubahan iklim yang disebutnya sebagai "tipuan". Ia bahkan sempat menyindir Wali Kota London, Sadiq Khan.
Lebih lanjut, Trump secara terang-terangan mempertanyakan fungsi dan efektivitas PBB dalam menciptakan perdamaian dunia. "Apa tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa? PBB punya potensi yang luar biasa, tapi sebagian besar belum bisa mencapai potensi itu," ujarnya, menambahkan bahwa PBB hanya pandai mengeluarkan pernyataan tanpa tindakan nyata. Ia bahkan menyebut pengalamannya dengan eskalator dan teleprompter yang rusak di markas PBB sebagai bukti ketidakmampuan organisasi tersebut. Trump juga secara mengejutkan mengklaim dirinya layak mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian atas upayanya mencegah perang.
Pidato Trump yang panjang dan penuh kontroversi ini tentu akan memicu perdebatan panjang di kancah internasional. Pernyataan-pernyataannya yang tajam dan provokatif menunjukkan sikap tegasnya terhadap isu-isu global yang krusial.
