Internationalmedia.co.id melaporkan kecaman keras Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, terhadap tindakan Amerika Serikat (AS) di Sidang Umum PBB ke-80. Lula mengecam keputusan pemerintahan Donald Trump yang mencabut visa Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, dan sejumlah delegasi Palestina lainnya, sehingga mencegah mereka hadir langsung di New York.
Dalam pidatonya, Lula secara tegas mengecam serangan Hamas terhadap Israel, menyebutnya tak terbenarkan. Namun, ia juga tak segan menuding Israel melakukan genosida di Gaza. "Tidak ada situasi yang lebih menunjukkan penggunaan kekuatan yang tidak proporsional dan ilegal daripada yang terjadi di Palestina," tegas Lula. Ia menggambarkan situasi di Gaza sebagai tragedi kemanusiaan yang mengerikan, dengan ribuan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, menjadi korban. Lula juga menyoroti penggunaan kelaparan sebagai senjata perang dan pemindahan paksa penduduk Gaza sebagai pelanggaran HAM berat.

Ketidakhadiran Abbas di Sidang Umum PBB menjadi sorotan utama kecaman Lula. Ia menilai tindakan AS tersebut sebagai penghalang bagi upaya perdamaian dan solusi dua negara yang didukung lebih dari 150 negara anggota PBB. "Sangat disesalkan bahwa Presiden Mahmoud Abbas dicegah oleh negara tuan rumah dengan ‘menduduki’ bangku Palestina pada momen bersejarah ini," ungkap Lula dengan nada mengecam.
Sebelumnya, AS berdalih pencabutan visa tersebut dilakukan karena PLO dan Otoritas Palestina dianggap merusak prospek perdamaian. Keputusan ini berdampak pada sekitar 80 warga Palestina, termasuk Presiden Abbas. Meskipun demikian, Majelis Umum PBB akhirnya mengizinkan Abbas menyampaikan pidato melalui rekaman video. Langkah ini tetap menuai kecaman internasional, termasuk dari Presiden Brasil yang melihatnya sebagai bentuk penjajahan atas hak suara Palestina di forum global. Peristiwa ini memicu pertanyaan besar tentang komitmen AS terhadap perdamaian di Timur Tengah dan peran PBB dalam menyelesaikan konflik tersebut.
