Peristiwa mengejutkan terjadi di KTT PBB untuk solusi dua negara Palestina dan Israel. Internationalmedia.co.id melaporkan, mikrofon sejumlah pemimpin negara, termasuk Perdana Menteri Kanada Mark Carney, mendadak mati di tengah pidato. Bukan tanpa sebab, Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang memimpin KTT bersama Menlu Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud, telah menetapkan batasan waktu pidato: 5 menit untuk kepala negara dan 3 menit untuk menteri atau perwakilan lainnya. Sistem otomatis langsung mematikan mikrofon jika batas waktu tersebut terlampaui.
Hal ini terjadi tidak hanya pada Perdana Menteri Kanada. Sebelumnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga mengalami hal serupa saat menyerukan penarikan pasukan Israel dari Gaza. Bahkan Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto, juga mengalami kejadian yang sama ketika menyampaikan kesiapan Indonesia menyediakan pasukan perdamaian. Ketiga pemimpin tersebut tetap melanjutkan pidato mereka meski mikrofon telah mati.

Uniknya, mikrofon PM Kanada, Mark Carney, mati saat ia tengah menyampaikan dukungan Kanada terhadap negara Palestina. Carney menegaskan komitmen Kanada terhadap solusi dua negara sejak 1947, mengakui negara Palestina yang harus dipimpin oleh otoritas Palestina dan berujung pada berakhirnya Hamas. Ia menekankan bahwa perdamaian dan keamanan bagi Israel juga akan tercapai melalui solusi dua negara. Pidato Carney yang disampaikan dalam bahasa Inggris dan Prancis itu terhenti sejenak karena mikrofon mati, namun ia tetap melanjutkan hingga selesai. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan, apakah ada pesan tersirat di balik sistem pembatasan waktu pidato tersebut?
