Amerika Serikat dan Venezuela semakin memanas. Internationalmedia.co.id melaporkan, Gedung Putih secara tegas menolak ajakan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, untuk berunding dengan Presiden Donald Trump. Penolakan ini terjadi di tengah peningkatan tensi antara kedua negara, ditandai dengan pengerahan kekuatan militer AS di dekat perairan Venezuela.
Dua pemimpin oposisi Venezuela justru mendukung langkah AS tersebut, menganggapnya krusial bagi pemulihan demokrasi di negara mereka. Kantor berita AFP melaporkan, AS telah mengerahkan delapan kapal perang dan sebuah kapal selam ke Karibia selatan dalam operasi anti-narkoba. Venezuela sendiri khawatir operasi ini sebagai langkah awal invasi.

Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan AS telah menghancurkan setidaknya tiga kapal yang diduga milik Venezuela, mengakibatkan tewasnya lebih dari selusin orang. Sebelumnya, Maduro mengirimkan surat kepada Trump, membantah tuduhan AS bahwa ia memimpin kartel narkoba dan mendesak dialog untuk menjaga perdamaian. Maduro bahkan menyatakan akan mengirimkan lebih banyak surat lagi ke Trump.
Namun, Gedung Putih melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt, menyebut surat Maduro penuh kebohongan dan menegaskan posisi AS terhadap rezim Venezuela tetap tidak berubah, menganggapnya tidak sah. Pengerahan pasukan AS di Karibia ini merupakan yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir, memicu kecurigaan Maduro akan upaya AS untuk melakukan perubahan rezim. Ketegangan ini terus meningkat dan berpotensi memicu konflik lebih besar di kawasan tersebut.
