Internationalmedia.co.id melaporkan aksi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh generasi Z Peru akhir pekan lalu. Aksi yang berujung bentrok dengan aparat keamanan ini menyoroti gelombang ketidakpuasan terhadap pemerintah Presiden Dina Boluarte. Lebih dari sekedar protes, ini bisa jadi pertanda kebangkitan politik generasi muda.
Bentrokan antara demonstran dan polisi di Lima, ibu kota Peru, pada Sabtu (20/9) mengakibatkan sedikitnya 18 orang luka-luka. Laporan dari berbagai sumber menyebutkan para demonstran melemparkan batu dan tongkat, sementara polisi membalas dengan gas air mata. Ironisnya, 12 dari korban luka adalah personel kepolisian, sementara enam jurnalis terluka akibat tembakan peluru karet. Baik Asosiasi Jurnalis Nasional Peru (ANP) maupun Koordinator Hak Asasi Manusia Nasional mengecam keras tindakan represif polisi.

Demo ini bukan aksi spontan. Ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan Boluarte yang kian merosot, ditambah dengan maraknya kasus korupsi dan kejahatan terorganisir, menjadi pemicu utama. Undang-undang baru yang mewajibkan kaum muda bergabung dengan dana pensiun swasta, meski banyak yang bekerja di sektor informal, semakin memperkeruh suasana. Protes pun berlanjut hingga Minggu (21/9), dengan ratusan demonstran kembali turun ke jalan menuju kantor kepresidenan. Salah satu demonstran, Xiomi Aguiler (28), mengungkapkan kemarahannya terhadap pemerintah dan kongres yang dianggapnya korup dan mementingkan partai politik.
Jonatan Esquen (18), seorang mahasiswa, melihat demonstrasi ini sebagai "awal dari kebangkitan". Menurutnya, generasi muda semakin aktif di media sosial dan mulai berperan aktif dalam politik. Aksi ini menjadi bukti nyata bahwa suara generasi Z Peru tak bisa lagi diabaikan. Ke depan, perlu dilihat bagaimana pemerintah merespon tuntutan para demonstran dan apakah gelombang protes ini akan terus berlanjut. Pertanyaan besarnya adalah: apakah ini hanya puncak gunung es, atau awal dari perubahan besar di Peru?
