Pengakuan negara Palestina oleh Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal mengejutkan dunia. Internationalmedia.co.id melaporkan, langkah keempat negara tersebut diumumkan Minggu (21/9) lalu, menimbul reaksi beragam dari berbagai pihak. Keputusan ini didasari oleh keprihatinan mendalam terhadap konflik Gaza yang berkepanjangan dan diharapkan dapat mendorong solusi dua negara.
Namun, reaksi keras datang dari Rusia. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan komitmen Rusia pada solusi dua negara sebagai satu-satunya jalan keluar konflik Israel-Palestina. Peskov menekankan bahwa Rusia tetap berpegang pada resolusi Dewan Keamanan PBB dan posisi internasional terkait penyelesaian masalah berdasarkan pendekatan dua negara. "Ini tetap pendekatan kami, dan kami percaya ini satu-satunya cara untuk menemukan solusi konflik yang kompleks dan telah berlangsung lama ini," tegasnya.

Langkah keempat negara Barat itu, yang selama ini dikenal bersekutu dengan Israel, menambah daftar lebih dari 140 negara yang telah mengakui negara Palestina. Rusia sendiri telah lama mengakui kedaulatan Palestina.
Reaksi Israel terhadap pengakuan ini sangat keras. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebutnya sebagai "hadiah besar bagi terorisme" dan menegaskan penolakannya atas berdirinya negara Palestina di sebelah barat Sungai Yordan. Sebaliknya, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyambut baik keputusan tersebut, melihatnya sebagai langkah maju menuju "negara Palestina yang hidup berdampingan dengan Israel dalam keamanan, perdamaasan, dan hubungan bertetangga yang baik".
Pengakuan serupa juga akan diberikan Prancis pekan ini di Sidang Majelis Umum PBB di New York. Perkembangan ini jelas akan semakin mewarnai dinamika politik Timur Tengah yang tengah bergejolak.
