Internationalmedia.co.id melaporkan, Perdana Menteri (PM) sementara Nepal, Sushila Karki, mengambil langkah tak terduga usai dilantik. Alih-alih memberikan pidato perdana, Sushila justru memilih mengunjungi para korban luka demonstrasi anti-korupsi berdarah di Kathmandu. Langkah ini diambil setelah demonstrasi tersebut menewaskan 51 orang dan menyebabkan lebih dari 12.500 narapidana melarikan diri dari penjara.
Dilansir dari AFP, Sabtu (13/9/2025), Sushila terlihat mengunjungi para pengunjuk rasa muda yang terluka di rumah sakit. Keheningan PM baru ini menimbulkan pertanyaan, namun tindakannya menunjukkan prioritas utama: memulihkan kondisi pasca-kerusuhan. Belum ada pernyataan resmi dari Sushila kepada publik sejak pelantikannya Jumat malam. Namun, kunjungannya ke rumah sakit menjadi sinyal awal komitmennya untuk menangani dampak demonstrasi mematikan tersebut.

Kepolisian Nepal sebelumnya mengumumkan jumlah korban tewas bertambah menjadi 51 jiwa. Situasi semakin rumit dengan masih buronnya ribuan narapidana yang memanfaatkan kekacauan untuk melarikan diri. Juru bicara Kepolisian Nepal, Binod Ghimire, menegaskan bahwa lebih dari 12.500 narapidana masih belum tertangkap. Langkah selanjutnya PM Sushila dalam menstabilkan situasi dan mengembalikan ketertiban menjadi fokus perhatian internasional.
