Internationalmedia.co.id melaporkan, dunia internasional kembali dihebohkan oleh keputusan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hasil voting Jumat (12/9) lalu menunjukkan dukungan mayoritas negara anggota terhadap resolusi pembentukan negara Palestina yang merdeka dan bebas dari pengaruh Hamas. Sebanyak 142 negara memberikan suara setuju, sementara 10 negara, termasuk Israel dan Amerika Serikat, menolak. 12 negara lainnya memilih abstain.
Reaksi keras pun datang dari Israel. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, melalui pernyataan resmi menyebut resolusi tersebut sebagai "penolakan mentah-mentah" dan mengatakan Majelis Umum PBB telah berubah menjadi "sirkus politik yang jauh dari realita." Pernyataan ini sekaligus menyiratkan penolakan Tel Aviv terhadap solusi dua negara yang diusulkan.

Di sisi lain, Palestina menyambut baik keputusan tersebut. Wakil Presiden Palestina, Hussein al-Sheikh, melalui media sosial X, menyampaikan apresiasinya atas adopsi resolusi yang dianggap penting untuk mengakhiri pendudukan. Resolusi yang juga dikenal sebagai "Deklarasi New York" ini diajukan oleh Prancis dan Arab Saudi.
Tensi hubungan internasional tak hanya terjadi antara Israel dan Palestina. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan menuduh Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, melontarkan "ancaman genosida" terhadap Israel, tuduhan yang langsung dibantah keras oleh Menteri Pertahanan Spanyol, Margarita Robles.
Di tengah gejolak politik internasional, Albania justru membuat gebrakan. Negara Balkan ini menunjuk bot AI bernama Diella sebagai menteri untuk memberantas korupsi. Langkah inovatif ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan inovasi pemerintahan. Diella, yang namanya berarti "matahari" dalam bahasa Albania, diharapkan kebal terhadap suap dan tekanan politik.
