Angka korban tewas akibat demonstrasi berdarah di Nepal terus meningkat. Internationalmedia.co.id melaporkan, Kepolisian Nepal mengumumkan jumlah korban jiwa telah mencapai 51 orang pada Jumat (12/9). Kerusuhan yang awalnya dipicu oleh pemblokiran media sosial, kini telah meluas menjadi protes besar-besaran terhadap pemerintah dan tuduhan korupsi.
Lebih dari 12.500 narapidana dilaporkan kabur dari penjara di tengah kekacauan tersebut dan hingga kini masih buron. Juru bicara Kepolisian Nepal, Binod Ghimire, mengkonfirmasi angka tersebut dalam pernyataan resmi. Awalnya, demonstrasi yang didominasi generasi Z ini menentang pemblokiran akses media sosial. Namun, setelah pemblokiran dicabut pada Senin (8/9), demonstrasi justru semakin membesar dan berubah menjadi kritik luas terhadap pemerintah.

Kekerasan memuncak pada Selasa (9/9) ketika polisi menembak demonstran. Amnesty International menyatakan peluru tajam digunakan dalam insiden tersebut. Kemarahan atas jatuhnya korban jiwa memicu aksi pembakaran terhadap rumah pejabat tinggi dan gedung parlemen. Menanggapi situasi yang tak terkendali, Perdana Menteri Khadga Prasad Sharma Oli mengundurkan diri. Langkah tersebut, sayangnya, tak mampu meredakan amarah massa.
Militer pun dikerahkan untuk mengamankan situasi. Jam malam diberlakukan, dan patroli serta pemeriksaan ketat dilakukan di Kathmandu. Militer memperingatkan akan menindak tegas pelaku kekerasan dan vandalisme. Setidaknya 27 orang telah ditangkap dan 31 senjata api disita. Di tengah kekacauan, muncul kekhawatiran dari beberapa demonstran dan militer bahwa aksi protes telah disusupi oleh pihak-pihak tertentu.
