Internationalmedia.co.id memberitakan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan perluasan serangan militer di dalam dan sekitar Kota Gaza. Serangan ini, menurut Netanyahu, bertujuan meningkatkan tekanan terhadap Hamas. Serangan udara Israel yang intensif telah meratakan beberapa gedung tinggi, memicu kekhawatiran akan krisis kemanusiaan yang semakin parah.
Netanyahu, dalam video pernyataan yang dirilis kantornya, mengklaim operasi militer semakin dalam di pinggiran dan pusat Kota Gaza. Ia menegaskan bahwa infrastruktur dan bangunan yang diduga digunakan Hamas untuk memantau pasukan Israel telah dihancurkan. Klaim ini dibantah oleh Hamas. Meskipun Israel belum secara resmi mengumumkan operasi besar-besaran untuk merebut Kota Gaza, intensitas serangan udara dan operasi darat dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan sebaliknya.

Netanyahu menyatakan bahwa Israel telah menetapkan zona aman untuk memungkinkan warga sipil mengungsi. Ribuan selebaran yang meminta warga untuk meninggalkan wilayah barat Kota Gaza telah dijatuhkan dari udara. Netanyahu mengklaim sekitar 100.000 warga telah mengungsi, namun menuduh Hamas menghalangi evakuasi dan menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia.
Namun, pernyataan tersebut diragukan oleh warga Gaza seperti Mustafa Al-Jamal yang menolak mengungsi. Ia mempertanyakan keamanan zona aman yang telah diklaim Israel, karena wilayah tersebut telah berkali-kali dibom. Al-Jamal mengungkapkan keputusasaan warga Gaza yang tak memiliki uang, tenda, rumah, dan makanan.
Sementara itu, demonstrasi di Israel menuntut pemerintah menghentikan operasi di Gaza, mengingat nasib sandera yang masih ditawan dan kekhawatiran akan situasi kemanusiaan di Gaza. Seorang demonstran di Yerusalem yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan keprihatinannya atas perang politik yang terjadi. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah zona aman yang diklaim Israel benar-benar aman bagi warga sipil Gaza?

