Internationalmedia.co.id melaporkan gelombang dukungan internasional terhadap pengakuan negara Palestina semakin kuat. Sejumlah negara Barat menyatakan kesiapannya untuk mengakui negara tersebut, memicu reaksi keras dari Amerika Serikat dan Israel. Langkah ini dinilai sebagai babak baru diplomasi internasional, namun dianggap kontraproduktif oleh pihak yang berseberangan.
Pada Juli lalu, 15 negara Barat, termasuk Prancis dan Spanyol, menyatakan keinginan mereka untuk mengakui negara Palestina dalam sebuah konferensi internasional di New York. Pernyataan bersama tersebut menekankan komitmen terhadap solusi dua negara. Beberapa negara yang belum mengakui Palestina bahkan menyatakan sedang mempertimbangkan hal tersebut secara positif, antara lain Australia, Kanada, dan Selandia Baru.

Gelombang dukungan semakin deras ketika Belgia ikut menyatakan niatnya untuk mengakui Palestina. Hal ini menyusul langkah serupa dari Prancis, Inggris, dan Kanada. Namun, tidak semua negara Eropa sepakat. Jerman, misalnya, masih ragu dan khawatir langkah tersebut akan menghambat proses perdamaian.
Di sisi lain, Amerika Serikat secara tegas menolak pengakuan negara Palestina. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengkritik keras langkah Prancis dan negara-negara lain, menegaskan bahwa tidak akan ada negara Palestina yang diakui secara resmi. Rubio bahkan menuduh dukungan terhadap Otoritas Palestina justru telah memberi ruang gerak lebih besar bagi Hamas.
Reaksi keras juga datang dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ia menilai pengakuan sepihak terhadap Palestina akan memperburuk situasi dan mengatakan bahwa langkah tersebut merupakan bentuk provokasi. Netanyahu bahkan melontarkan kecaman tajam kepada pemimpin Belgia, menyebutnya sebagai pemimpin lemah yang mengorbankan Israel demi memenuhi tuntutan terorisme.
Pernyataan-pernyataan yang saling bertolak belakang ini menunjukkan betapa rumit dan sensitifnya isu Palestina. Langkah-langkah diplomasi yang diambil oleh beberapa negara Barat akan mempengaruhi peta politik Timur Tengah dalam waktu dekat. Konflik ini pun tampaknya masih jauh dari kata selesai.
