Serangan udara terbaru Israel ke Yaman memicu ketegangan regional. Internationalmedia.co.id melaporkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan komitmennya untuk membalas setiap serangan terhadap negaranya. Pernyataan tegas ini menyusul serangan udara yang diklaim menghancurkan "istana presiden" kelompok pemberontak Houthi di Sanaa.
Klaim Menteri Pertahanan Israel, Benny Gantz, mengenai kehancuran istana presiden tersebut belum dikonfirmasi oleh pihak Yaman. Netanyahu, dalam pernyataan dari pusat komando Angkatan Udara Israel di Tel Aviv, hanya mengindikasikan bahwa Angkatan Udara Israel (IAF) menargetkan kompleks tersebut. "Siapa pun yang menyerang kami, akan kami serang," tegasnya. "Siapa pun yang merencanakan serangan, akan kami serang. Saya pikir seluruh kawasan sedang mempelajari kekuatan dan tekad Israel."

Serangan IAF tak hanya menyasar "istana presiden," tetapi juga kompleks militer, depot bahan bakar, dan dua pembangkit listrik di Sanaa. Netanyahu menyebut serangan ini sebagai balasan atas agresi Houthi yang dinilai semakin mengancam. "Rezim teroris Houthi sedang belajar dengan cara yang sulit bahwa mereka akan membayar mahal atas agresinya terhadap Israel," ujarnya dalam pernyataan video.
Ketegangan meningkat setelah militer Israel mengumumkan penemuan penggunaan hulu ledak bom cluster dalam serangan rudal balistik Houthi dari Yaman pada Jumat lalu. Menteri Pertahanan Katz menegaskan, "Untuk setiap rudal yang mereka luncurkan ke Israel, Houthi akan membayar berkali-kali lipat."
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Houthi melaporkan sedikitnya enam orang tewas dan 86 lainnya luka-luka akibat serangan udara Israel. Militer Israel menyatakan serangan tersebut sebagai respons atas serangan berulang Houthi menggunakan rudal permukaan-ke-permukaan dan drone. Houthi sendiri mengklaim serangan rudal balistik ke Israel sebagai bentuk dukungan kepada warga Palestina di Jalur Gaza. Peristiwa ini semakin memperumit situasi geopolitik yang sudah rawan di kawasan tersebut.

