Korea Utara (Korut) melontarkan kecaman keras terhadap Korea Selatan (Korsel) terkait latihan militer gabungan dengan Amerika Serikat (AS). Internationalmedia.co.id melaporkan, aksi ini dinilai sebagai "sikap bermuka dua" Korsel yang mencoba pendekatan diplomatik sembari menggelar latihan militer besar-besaran.
Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korut Kim Jong Un, mengatakan latihan gabungan tersebut menunjukkan niat Korsel untuk menyerang wilayah Korut. Ia menyebut latihan ini sebagai "penyamaran rekonsiliasi" yang sebenarnya bertujuan menghancurkan kemampuan nuklir dan rudal Korut. Pernyataan ini disampaikan melalui kantor berita resmi Korean Central News Agency (KCNA), menanggapi latihan gabungan tahunan Seoul dan Washington yang dimulai pada 18 Agustus lalu.

Lebih jauh, Kim Yo Jong membantah klaim Korsel yang menyatakan Korut telah mencopot pengeras suara propaganda di perbatasan sebagai tanda perbaikan hubungan. Ia menegaskan bahwa Korut tidak pernah dan tidak akan pernah mencopot pengeras suara tersebut. Sikap keras ini menunjukkan Korut sama sekali tak berniat memperbaiki hubungan dengan Korsel. Bahkan, Kim Yo Jong menyatakan pendirian ini akan tercantum dalam konstitusi Korut mendatang.
Presiden Korsel Lee Jae Myung, yang sejak Juni lalu berjanji mendekati Korut melalui dialog tanpa prasyarat, menyatakan hormat terhadap sistem politik Korut dan bertekad membangun kepercayaan militer. Namun, pernyataan keras Kim Yo Jong menunjukkan janji perdamaian Presiden Lee belum tentu dibalas dengan sikap yang sama dari Korut. Akankah upaya perdamaian Korsel sia-sia? Situasi di Semenanjung Korea tetap tegang dan penuh misteri.

