Pernyataan mengejutkan datang dari mantan Presiden AS Donald Trump beberapa jam sebelum pertemuannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih. Internationalmedia.co.id melaporkan, Trump secara tegas menyatakan Ukraina tak akan bergabung dengan NATO dan tak akan merebut kembali Crimea. Pernyataan ini disampaikan menyusul pertemuan puncaknya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska.
Trump, melalui platform Truth Social, menulis, "Presiden Zelensky dapat segera mengakhiri perang dengan Rusia, jika ia mau, atau ia dapat terus berjuang." Ia menambahkan, "Tidak ada pengembalian Crimea yang diberikan oleh Obama dan TIDAK ADA UKRAINA MASUK NATO." Pernyataan ini kontras dengan kesepakatan negara-negara NATO sebelum Trump kembali berkuasa, yang telah menyepakati "jalur yang tidak dapat diubah" bagi Ukraina untuk bergabung dengan aliansi tersebut.

Zelensky, menanggapi pernyataan Trump, mengaku bersyukur atas undangan tersebut dan menegaskan kembali perlunya jaminan keamanan yang efektif dari sekutu. Ia menekankan bahwa Crimea seharusnya tidak diserahkan, sama seperti Ukraina tidak akan menyerahkan Kyiv, Odesa, atau Kharkiv.
Sementara itu, Putin mengklaim adanya "kesepahaman" dengan Trump setelah pertemuan mereka di Alaska, yang menurutnya dapat membuka jalan bagi perdamaian di Ukraina. Namun, Putin tak menjelaskan detail "kesepahaman" tersebut. Pertemuan tiga jam di Alaska tersebut berakhir tanpa kesepakatan konkret mengenai Ukraina. Putin hanya berharap Kyiv dan ibu kota Eropa memandang "kesepahaman" ini secara konstruktif.
Pertemuan Trump dengan Zelensky dan para pemimpin Eropa di Gedung Putih pun diwarnai teka-teki. Akankah "kesepahaman" antara Trump dan Putin menjadi kunci perdamaian Ukraina? Ataukah pernyataan tegas Trump justru akan memperumit situasi? Jawabannya masih menjadi misteri.
