Internationalmedia.co.id melaporkan situasi darurat di Gaza. Badan Pertahanan Sipil Gaza menyatakan kebutuhan mendesak akan 1.000 truk pasokan makanan setiap hari untuk mengatasi bencana kelaparan yang melanda wilayah tersebut. Ironisnya, hanya 100 truk yang diizinkan masuk setiap hari.
Menurut Juru bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza, Bassal Mahmud, pasokan yang masuk pun tak sepenuhnya sampai ke warga. Sebagian besar dialokasikan untuk pedagang guna memenuhi kebutuhan pasar. Kondisi ini diperparah oleh pernyataan Direktur Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, yang mengungkapkan dampak fatal dari blokade Israel terhadap akses bantuan.

Al-Bursh menyampaikan data mengkhawatirkan: 40.000 bayi di bawah usia satu tahun menderita malnutrisi, 250.000 anak di bawah lima tahun menghadapi ancaman kelaparan akut, dan 1,2 juta anak di bawah 18 tahun hidup dalam kondisi kerawanan pangan parah. "Angka-angka ini luar biasa dan mengerikan," tegasnya.
Situasi semakin mencekam dengan larangan Israel terhadap 430 jenis makanan masuk Gaza. Meskipun ada sedikit pelonggaran akses bantuan setelah tekanan internasional, pembatasan terhadap makanan dan barang penting lainnya tetap diberlakukan. Lebih memprihatinkan lagi, Israel dituduh secara sengaja menargetkan sumber makanan, dengan membombardir 44 bank makanan dan 57 pusat distribusi makanan, mengakibatkan puluhan korban jiwa. Krisis kemanusiaan di Gaza ini membutuhkan respons global yang segera dan efektif.

