Proyek pembangunan ballroom mewah di Gedung Putih senilai US$ 200 juta atau sekitar Rp 3,2 triliun (kurs saat ini) tengah menjadi sorotan. Internationalmedia.co.id melaporkan rencana ambisius ini diungkapkan oleh Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam konferensi pers baru-baru ini. Leavitt menyatakan bahwa dana pembangunan akan ditanggung oleh Presiden Donald Trump dan sejumlah donatur anonim.
Rencana ini bukan tanpa kontroversi. Pembangunan ballroom seluas 8.000 meter persegi yang mampu menampung hingga 650 orang ini disebut-sebut sebagai salah satu proyek terbesar di Gedung Putih dalam lebih dari seabad terakhir. Leavitt membela proyek ini dengan mengatakan bahwa selama 150 tahun, Gedung Putih kekurangan ruang acara memadai untuk menjamu tamu negara. Saat ini, acara-acara penting seringkali digelar di tenda darurat yang didirikan di halaman Gedung Putih.

Pembangunan ballroom yang dijadwalkan dimulai September mendatang dan ditargetkan rampung sebelum akhir masa jabatan kedua Trump ini, akan menggantikan East Wing, yang selama ini menjadi kantor Ibu Negara AS. Desain ballroom yang telah dipresentasikan menampilkan bangunan bergaya klasik putih dengan pilar-pilar megah, selaras dengan arsitektur Gedung Putih.
Trump sendiri, yang dikenal sebagai mantan pengembang properti ternama, terlihat antusias dengan proyek ini. Ia bahkan menyatakan bahwa ballroom ini akan terinspirasi oleh propertinya sendiri, khususnya Mar-a-Lago di Florida, dan menjamin pembangunan akan cepat, tepat waktu, dan menghasilkan hasil yang indah. Ia juga memastikan karakter bangunan asli Gedung Putih tetap terjaga. Namun, besarnya biaya dan dampak renovasi terhadap fungsi Gedung Putih masih menjadi pertanyaan yang perlu dijawab.

