Internationalmedia.co.id melaporkan sebuah kejadian mengejutkan dari balik jeruji besi. Mantan Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, menolak keras untuk menjalani interogasi terkait berbagai tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Aksi protesnya? Berbaring di lantai sel tahanannya di Pusat Penahanan Seoul pada Jumat (1/8).
Kejadian ini terjadi di tengah penyelidikan tim penuntut khusus yang dibentuk di bawah Presiden Lee Jae Myung. Yoon, yang sebelumnya diberhentikan dari jabatannya pada April lalu oleh Mahkamah Konstitusi Korsel, kini menghadapi berbagai tuduhan, termasuk penyalahgunaan pengaruh dan pemberontakan. Juru bicara kantor jaksa khusus, Oh Jung Hee, menyatakan bahwa jaksa telah berupaya membujuk Yoon untuk kooperatif, namun mantan presiden itu bersikeras menolak dan tetap berbaring di lantai, bahkan tanpa mengenakan seragam tahanan.

Oh Jung Hee menambahkan bahwa pihak penyelidik tetap akan berupaya membawa Yoon ke ruang interogasi, meskipun harus menggunakan kekuatan. Laporan Yonhap News Agency menyebutkan Yoon hanya mengenakan kaos dan celana dalam saat jaksa datang. Pihak pengacara Yoon, Yu Jeong Hwa, membela kliennya dengan mengatakan kondisi ruangan yang panas, hampir 40 derajat Celcius, memaksa Yoon untuk berpakaian minim. Yu juga menyebut tindakan jaksa sebagai penghinaan terhadap martabat kliennya.
Yoon saat ini tengah menjalani persidangan atas tuduhan pemberontakan, yang ancaman hukumannya adalah hukuman mati atau penjara seumur hidup. Ia juga menghadapi sejumlah investigasi lain, termasuk skandal yang melibatkan istrinya, Kim Keon Hee, yang diduga memanfaatkan pengaruhnya secara tidak pantas dalam pemilu. Yoon sendiri membantah semua tuduhan dan pengacaranya menuduh jaksa melakukan perburuan penyihir (witch hunt) bermotif politik. Sebelumnya, Yoon juga berulang kali menolak pemeriksaan dengan alasan masalah kesehatan, termasuk kondisi yang berisiko membuatnya kehilangan penglihatan. Aksi dramatisnya di lantai penjara ini semakin memperkeruh situasi dan menambah intrik dalam kasus yang telah menyita perhatian publik Korea Selatan.

