Internationalmedia.co.id melaporkan insiden penghancuran satu-satunya gereja Katolik di Gaza oleh militer Israel. Kejadian yang menewaskan tiga orang dan melukai sepuluh lainnya ini menimbulkan kecaman internasional. Israel sendiri menyatakan penyesalan dan menyebut insiden tersebut sebagai akibat "peluru nyasar".
Pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Israel menyampaikan duka cita atas kerusakan Gereja Keluarga Kudus dan jatuhnya korban sipil. Namun, klaim "tidak pernah menargetkan gereja atau tempat ibadah" langsung dipertanyakan mengingat catatan serangan Israel terhadap sejumlah masjid dan gereja selama konflik di Gaza. Laporan Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB bahkan menyatakan Israel telah melakukan kejahatan kemanusiaan dengan menghancurkan lebih dari separuh situs keagamaan dan budaya di wilayah tersebut.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, turut menyatakan penyesalan dan menyalahkan peluru nyasar atas kematian tiga orang tersebut. Pernyataan ini disampaikan setelah Netanyahu melakukan komunikasi dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Netanyahu berjanji akan melakukan penyelidikan atas insiden tersebut. Pihak militer Israel juga menegaskan telah berupaya meminimalisir kerugian sipil dan kerusakan bangunan keagamaan.
Namun, penjelasan tersebut dinilai kurang memuaskan oleh banyak pihak. Saksi mata dan Patriark Latin menyebutkan granat tank menghantam gereja secara langsung. Paus Leo XIV pun menyampaikan dukacita mendalam atas insiden tersebut. Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengungkapkan bahwa Trump telah menghubungi Netanyahu untuk menyampaikan keprihatinan atas insiden ini, menekankan kesalahan Israel dalam menyerang gereja Katolik tersebut. Insiden ini kembali menyoroti kontroversi tindakan militer Israel di Gaza dan menimbulkan pertanyaan besar tentang akuntabilitas atas serangan yang menghancurkan situs keagamaan.
