Internationalmedia.co.id melaporkan sebuah tragedi pilu dari Gaza. Mahmoud Qassem, seorang warga Gaza, kehilangan putranya, Khader (19), yang tewas tertembak saat berusaha mendapatkan bantuan makanan di pusat distribusi Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF). Khader, menurut kesaksian sang ayah kepada DW, tengah menuju pusat distribusi Netzarim, sebuah lembaga bantuan yang didukung Amerika Serikat, ketika kejadian nahas itu terjadi. Qassem terakhir kali berkomunikasi dengan Khader pukul 11 malam, sebelum akhirnya ponsel putranya tak aktif dan kabar buruk datang keesokan harinya. Khader ditemukan tewas dengan luka tembak.
Kejadian ini menyoroti situasi mengerikan yang dialami warga Gaza. Kelangkaan makanan dan kebutuhan pokok masih terjadi meskipun PBB telah mengirimkan bantuan dan tiga pusat distribusi baru dibuka. Blokade Israel yang berlangsung hampir tiga bulan menjadi penyebab utama krisis kemanusiaan ini. Klaim Israel bahwa Hamas mencuri bantuan untuk mendanai operasinya dibantah oleh PBB dan lembaga kemanusiaan internasional. Ironisnya, di tengah upaya mendapatkan bantuan, warga Gaza justru menjadi korban kekerasan.

Data mengerikan terungkap dari Kementerian Kesehatan Gaza dan Kantor HAM PBB. Lebih dari 500 orang tewas dalam beberapa pekan terakhir akibat serangan udara dan tembakan Israel, banyak di antaranya terjadi di sekitar lokasi distribusi bantuan. Kantor HAM PBB mencatat sedikitnya 613 pembunuhan di titik-titik distribusi GHF dan dekat konvoi bantuan hingga 27 Juni, dengan angka yang diperkirakan terus bertambah. Meskipun PBB belum dapat memastikan pihak yang bertanggung jawab, namun jelas disebutkan bahwa militer Israel telah menembaki warga Palestina yang berusaha mengakses bantuan. Situasi ini menggambarkan keputusasaan warga Gaza yang mempertaruhkan nyawa demi bertahan hidup di tengah konflik yang tak kunjung usai. Qassem pun hanya bisa mengungkapkan kepiluannya, merasa tak berdaya di tengah situasi yang mencekam.
